Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Minggu, 21 Oktober 2012

Undangan, Seserahan dan Mahar

Setelah acara lamaran, mulai deh saya dan si Abang nyusun timeline, cari-cari vendor, dan nyicil dikit-dikit. Sejauh ini yang udah dilakuin tuh DP gedung, DP catering, masukin desain undangan ke percetakan, pesen souvenir, nyicil beli seserahan sama mahar, terus mulai nyusun rundown, konsep acara, kepanitiaan, dan konsep dekor.

Untuk undangan saat ini sih udah dimasukin ke percetakannya, tapi belom naik cetak. Sejauh ini masih revisi desain dan ukuran. Soalnya kan bentuk desain sama ukuran itu ngaruh banget ke budget, berhubung desain undangan saya warna-warni dan ternyata itu bikin overbudget, jadi saya dan si Abang ngakalin gimana caranya buat ngurangin harga undangannya. Caranya kita cari ukuran yang ga terlalu besar, tapi juga ga terlalu kecil biar tulisannya tetep kebaca. Terus mesti nyesuaiin lagi sama ukuran tulisan dan layout supaya ga terlalu mepet-mepet.

Terus baru tau juga kalo cetak undangan sama cetak digital printing biasa itu beda. Kalo undangan itu kan biasanya ada bagian-bagian desain yang glow atau berwarna emas/perak (biasanya buat tulisan nama pengantin), itu istilahnya foil. Nah, kalo digital printing tuh ga bisa bikin foil gitu. Sedangkan kalo cetak undangan biasanya dia cetak separasi. Mungkin bisa dibilang cetak separasi itu cetak cara lama alias manual. Kalo dibandingin sebenernya cetak separasi itu harganya lebih mahal daripada cetak digital, tapi hasilnya lebih bagus cetak separasi. Dan tentunya cetak separasi bisa buat bikin foil.

Buat seserahan sama mahar, jujur aja saya ga minta macem-macem sama si Abang. Disesuaiin aja sama isi dompet doi. Biasanya saya termasuk orang yang sebodo amat sama midnight sale. Tapi buat ngurangin beban si Abang, saya selalu pantau kapan ada midnight sale. Sebagian seserahan bahkan saya beli di ITC yang harganya murah dan bisa nawar. List seserahan saya di antaranya:

- Perlengkapan kantor: blazer, baju daleman, celana bahan, sepatu kantor, jilbab, tas kantor.
- Perlengkapan pesta: baju pesta, rok bahan, sepatu pesta, jilbab, tas pesta.
- Perlengkapan tidur: lingerie, pakaian dalam.
- Perlengkapan mandi: baju handuk, handuk, sapu tangan.
- Perlengkapan kecantikan: make up, sisir, body shop.
- Batik sarimbit.

Udah itu aja. Total cuma Rp 3 jutaan. Abis kalo kebanyakan kesian abangnya. Mending uangnya dipake buat nambah-nambahin biaya catering, ye gak.. :)
Sering denger temen-temen yang udah pada nikah seserahannya bisa sampe Rp 4-7 jutaan. Ah tak tega aku sama si Abang. Buat maharnya saya malah serahin ke Abang mau kasih berapa. Dalam Islam kan juga ga ada ketentuannya mahar berapa. Malah ada hadits yang bilang kalau wanita yang meminta mahar yang ringan termasuk ke dalam wanita yang mulia. Jadi, secara nominal saya ga tentuin duitnya berapa. Tapi... saya kasih syarat ke Abang kalau maharnya harus ada kepingan 500 perak yang logam kuning, terus maharnya harus dihias-hias pake tangan Abang sendiri tanpa pake jasa vendor hias mahar. Berhubung si Abang hobi banget sama crayon, jadi saya minta maharnya dihias pake crayon. Nah loh, gimana tuh?? Ah sabodo wae itu urusan Abang.

Mau cerita juga kemaren akhirnya saya sama Abang beli cincin kawin. Horeeee.. Tapi kita cuma beli cincin buat pengantin wanita. Cincin emas putih dengan berat 2,39 gr 75%. Dikenain harga Rp 400ribu/gr plus harga jasa Rp 150ribu/gr karena cincinnya kecil. Kata penjualnya cincin yang kecil justru lebih susah buatnya dibanding yang agak besar. Kalo cincinnya besar dikenain harga jasa Rp 75ribu/gr. Tadinya total harga dikenain Rp 1.256.000,-. Tapi si Abang minta korting supaya harga cincin emasnya diturunin jadi Rp 390ribu/gr. Jadi total Rp 1.232.000,-. Kan si Abang bayar pake duit Rp 1,3jt ya, eh dibalikin Rp 100ribu sama ibu penjualnya. Katanya kasian soalnya kami masih muda. Hehehehehehe. Masih muda, kere, melas, udah gitu mau kawin lagi! Jadi cincin emas putih 2,39 gr 75% dapet dengan harga Rp 1,2 juta aja udah termasuk sama biaya jasa pembuatan.
Buat cincin pengantin prianya rencananya kami mau cari cincin murah meriah tapi bagus. Entah itu bahan silver atau titanium.
Oiya, cincin emas buat kawin bisa dibeli di Cikini, tepatnya di seberang stasiun Cikini. Pintunya warna hitam. Di situ toko-toko emas berkumpul jadi ada banyak pilihan cincin. Harganya juga murah-murah tapi gak murahan. Bagus-bagus juga.

Oiya, di stasiun Cikini juga banyak bertebaran terima jasa hias mahar dan hias seserahan/hantaran. Di situ juga dijual kotak/keranjang/perlengkapan hias mahar/seserahan/hantaran. Cuma karena saya niat awalnya mau ngehias-hias sendiri, jadi paling nanti tinggal beli kotak/keranjang seserahannya aja. Harganya variatif. Kalo hias mahar harga dimulai dari Rp 400rb. Kalo hias seserahan dimulai dari harga Rp 65ribu untuk yang ukurannya kecil, dan Rp 150ribu untuk yang ukuran besar. Untuk hias maharnya, sayangnya mereka pada ga sedia uang lama. Jadi klien harus bawa uang maharnya sendiri. Kan suka ada tuh ya pengantin yang maharnya sesuai tanggal nikah. Misalkan Rp 1.212.012,-. Buat Rp 12 kan mesti pake duit jaman orla tuh. Ada sih jasa hias mahar yang sekaligus nyediain uang-uang lamanya, tapi di Pasar Baru. Dan seingat saya harga jasa hias maharnya juga lebih murah daripada yang di Cikini. Sekitar Rp 250ribuan kalo ga salah.

Gitu aja cerita hari ini. Buat review-review vendor, kayaknya nanti aja direviewnya setelah resepsi dan segala-galanya kelar, terus ada mood tentunya. Semoga persiapan dan pas show time-nya lancar teruuuusss :)

Senin, 08 Oktober 2012

Kado Ulang Tahun


24 September 1996

Hari ini aku berulang tahun yang ke-9. Aku merayakannya bersama keluarga besarku. Kami berkumpul di rumah eyang. Om dan tanteku semuanya membawa kado. Aku senang sekali mendapat banyak kado. Ada yang memberikan alat tulis, boneka, dan barang-barang lucu lainnya yang aku suka. Tapi ada satu kado spesial yang paling aku suka, yaitu buku cerita pemberian salah satu tanteku. Tanteku itu tahu kalo aku sangat hobi membaca buku cerita. Setiap hari aku selalu membaca buku cerita. Yang membuat buku cerita ini sangat spesial, akulah yang menjadi tokoh utama dalam buku cerita tersebut! Ceritanya ada seorang gadis cilik yang sedang berulang tahun, namun tidak satupun teman-temannya yang memberi ucapan. Ternyata tanpa diketahuinya, teman-temannya tersebut diam-diam mengadakan kejutan untuknya.


Sebenarnya ada 1 buku cerita lagi dengan sampul berwarna hijau, namun aku lupa menaruhnya di mana. Ceritanya tentang tarzan perempuan cilik bernama Santi berusia 9 tahun. Santi hidup di hutan bersama temannya seekor monyet dan tupai. Ia sangat kuat dan gesit melompat dari akar pohon gantung yang satu ke akar pohon gantung lain. Santi suka menolong orang lain yang sedang kesusahan dan juga menumpas kejahatan.

Aku sangat suka sekali buku cerita ini. Menurutku, buku ini tidak ada duanya di dunia karena tokoh utama ceritanya adalah aku! Bagiku kado ini adalah yang paling spesial untukku.


24 September 2008

"Selamat ulang tahun ke-21! Gue ketiduran, siapa yg ngucapin pertama..?"

Pukul 03.00 WIB. Aku yang sedang begadang mengerjakan tugas kuliahku kaget mendengar hpku berbunyi pagi-pagi buta. Kubuka inbox smsku. Ternyata dia, laki-laki yang kata sahabatku Vanya sedang mendekatiku. Aku sendiri menganggapnya sebagai teman biasa. Memang orangnya sangat menyenangkan, tapi aku tak melihat tanda-tanda bahwa dia memang menyukaiku.

"Sayangnya bukan. Lo orang ke-3 yg ngucapin setelah Vanya & Arinangke."
Message sent to Andrian.

Beberapa lama kemudian Andrian mengirimkan sms lagi yang mengajak bertemu di Pusgiwa. Aku mengiyakan. Lagipula memang aku ada perlu ke Pusgiwa untuk mengecek dokumen partitur brassband di gudang.
Kami janjian bertemu sore hari sepulang kuliah. Sekitar jam 5. Hari ini tidak ada latihan MB, paling-paling hanya segelintir pasukan yang latihan tambahan. Ketika aku sedang sendiri di dalam gudang MB, tiba-tiba Andrian menghampiriku dan menyerahkan sesuatu yang ia bungkus di dalam tas berlogo Trans TV.

"Ini.. Maaf ya jelek.."

Ketika kubuka.. Ternyata sebuah kado buatan tangan Andrian sendiri. Dari pertama melihat aku tahu dia membuatnya dari bahan-bahan bekas. Andrian merupakan anak kosan. Aku tahu bagaimana perjuangan anak-anak kosan bertahan hidup, terutama jika belum dikirimi uang dari keluarganya. Aku sangat menghargai usaha Andrian yang tetap memberikanku kado dengan cara membuatnya sendiri karena tidak punya uang. Jujur saja, aku belum pernah mendapat kado handmade buatan si pengirimnya sendiri.
Kado itu berupa kardus bekas yang dibentuk sedemikian rupa dan dihias dengan kertas warna-warni dan crayon. Juga ada ucapan selamat ulang tahun dan doa-doa untukku. Tak lupa Andrian menyelipkan fotonya sebagai identitas pengirim kado. Andrian menyerahkan kado itu dengan malu-malu, namun sayangnya hal itu diketahui oleh beberapa anak yang sedang istirahat dari latihan tambahan.
Sepulangnya dari kampus, ibu dan adikku melihat kado Andrian yang kubawa. Mereka menebak kalau aku sedang ditaksir si pemberi kado. Aku bilang bahwa kami hanya berteman biasa. Ibuku bertanya untuk apa kado itu. Mungkin kado ini tidak ada gunanya selain sebagai pajangan. Itupun jika sudah lama, aku yakin akan rusak karena lapuk. Aku menaruhnya di atas lemari belajarku. Kadang-kadang jika sudah berdebu aku bersihkan. Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah membuang kado yang paling istimewa ini.

http://pangeranbelendung.blogspot.com/2012/02/spesial-tanpa-modal.html

24 September 2012

25 tahun sudah aku melewati hidupku. Dan sudah 3 tahun 7 bulan aku berpacaran dengan Andrian. Tahun ini Andrian sama sekali tidak memberikanku kado. Baik itu yang ia buat dengan tangannya, atau ia beli sendiri dengan uang hasil jerih payahnya. Aku tahu Andrian punya banyak kebutuhan yang harus ia penuhi.

Kemarin, ia datang ke rumahku membawa keluarga besarnya. Melalui encangnya yang dituakan, disampaikan maksudnya untuk melamarku. Ia sematkan cincin berbahan Titanium di jari manis kiriku.


Cincin titanium ini harganya murah dan tidak bisa dijual lagi seperti emas atau perak. Tapi tidak seperti perak, bahannya awet dan tidak akan hitam. Seperti halnya harapan untuk cinta kami, awet dan akan terus cemerlang. Cincin ini merupakan tanda ikatan bahwa aku sudah ada yang punya dan siap dinikahi. Andrian mengatakan bahwa beberapa bulan lagi, ia akan membawaku pada kehidupan kami yang baru.

Jumat, 05 Oktober 2012

Hubungan Beda Suku

Sering banget denger pendapat tentang hubungan beda agama. Ada yang pro dan kontra. Tapi pada kenyataannya, ga cuma beda agama, hubungan beda suku/ras/golongan pun walaupun Tuhannya sama bisa jadi masalah. Padahal ya, agama itu kan keyakinan dasar, identitas hakiki manusia, hubungan dengan Sang Pencipta. Ya wajarlah kalo beda jadi masalah. Tapi kalo suku/ras/golongan hubungan seorang lelaki dan perempuan jadi masalah, jujur aja sampe saat ini saya ga terima. Dan hal inipun menimpa saya dan Abang.

Saya terlahir dari bapak yang berasal dari ranah Minang dan ibu keturunan keraton Jawa, sedangkan Abang adalah Betawi asli Tangerang. Ketika kami mulai serius untuk melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan, perbedaan suku menjadi pertentangan. Stereotype orang Sumatera yang berwatak keras, terlebih suku Minang yang menganut matrilineal dan sering dicap pelit/perhitungan, sempat disematkan ke saya. Begitupun dengan stereotype orang Betawi sebagai orang yang malas, tidak berpendidikan, dan kampungan yang juga disematkan ke Abang.

Sulit tapi secara perlahan saya dan Abang melewati segala judgement dan negative thinking keluarga dan saudara-saudara melalui pendekatan dan berperilaku baik ketika bertemu. Secara logika, saya dan Abang mencintai Tuhan yang sama, beribadah dengan ajaran dan keyakinan yang sama, kami sama-sama menganut agama Islam. So, kalo secara hakiki keyakinan kita udah sama, apa lagi yang mesti dipermasalahin? Kenapa kami tidak dinilai berdasarkan perilaku kami, hanya dugaan stereotype berdasarkan suku orang tua kami?
Mana si Abang tau bakal dilahirin sebagai orang Betawi! Emangnya saya request khusus ke Tuhan punya bapak orang Minang dan ibu orang Jawa! Enggak kan.. Lagian yang terpenting itu kan masing-masing kami tidak menjadikan yang lain murtad, bahkan niat kami menikahpun semata-mata karena ingin menyempurnakan agama Allah.

Bagi saya dan Abang, hal ini hanya 'kerikil-kerikil' ujian akan rencana kami berdua untuk menikah. Mungkin ketika kami sudah menikah nantipun akan ada 'kerikil-kerikil' yang lebih besar lagi untuk dihadapi bersama.

Minggu, 23 September 2012

Lika-Liku Lamaran ep. 2

Setelah persoalan Bangkok selesai, saya dihadapkan persoalan baru..
Dan permasalahan ini justru terjadi H-1 jam sebelum acara!

Dari Sabtu pagi saya, adek, bapak, ibu, si mbok, dan dibantu pacarnya adek pas siang, kami semua bekerja sama nyiapin buat acara lamaran di hari Minggu ini. Saya kebagian tugas beres-beres, si mbok belanja ke pasar, ibu sama adek (ditemani pacarnya adek) belanja souvenir, bapak beli tiker karena konsep acaranya lesehan + kipas angin supaya tamu pada ga kegerahan. Ibu juga masak dan ngatur posisi barang-barang supaya rumah keliatan lega, berhubung keluarganya si Abang yangbakal dateng jumlahnya satu minibus full.
Intinya kami sekeluarga repot sana-repot sini riweuh banget dah hari Sabtu itu sampe tengah malem.

Hari Minggu ini kami juga bangun pagi buat nyelesaiin beres-beres. Si Abang ngabarin kalo dia berangkat jam setengah 9 dari rumah. Biasanya perjalanan Depok-Tangerang 2-3 jam. Tapiiiii..
Tiba-tiba jam 9 si Abang ngabarin kalo jalanan lancar jaya dan dia udah sampe Slipi.
Gosh, harus buru-buru ini. Huh hah, makanannya belom siap. Terus sodara-sodara saya mana inih?! Hai om, tante, yangkung, yangti, sepupu-sepupu kok pada belom nongol yaa?! Kan udah dibilangin di BBM grup kalo mereka harus dateng jam 9.
Yangti dan yangkung baru berangkat jam 9 itu dari rumahnya di daerah Salemba. Yaudalah ya, namanya juga aki-aki dan ninik-ninik ga bisa diburu-buruin. Mereka bisa dateng aja udah sukur alhamdulillah tuh.
Tapi ini tante-tante dan om-om saya yang rumahnya sesama warga Depok mana yaa??
Kok belom nongol juga??

Setelah ditelpon ke rumah masing-masing, langsung aja dong jantung saya kayak mau copot!
Om dan tante saya malah asik sepedaan di daerah Cibubur. Yang satu lagi pergi sama suaminya ga tau kemana. Padahal udah dikasih tau dari 2 hari yang lalu, acara jam 10 dan mereka harus dateng jam 9.
Masa iyak nanti yang nyambut keluarga abang cuma kami ber-5?? Saya, bapak, ibu, adek, dan pacarnya adek.. Bapak saya langsung senewen dan ibu saya marah-marah.
Padahal si Abang bawa rombongan 15-16 orang! Dan mereka bawa hantaran buah-buahan dan kue-kue. Langsung saya telpon Ucrin buat dateng saat itu juga. Si Mila belom mandi, Doni baru bangun tidur, Erwin ga bisa ditelpon.

Teruuusss, itu pesenan empal gentong belom dateng jugaaakk!! Aaaak, nanti tamunya makan apaan?! Lontong?! Akhirnya si empal gentong dateng injury time, beberapa menit sebelum si Abang nelpon ngabarin kalo dia udah di depan rumah!
Gilak, ini jam setengah 10 dan rekor 1 jam perjalanan Belendung-Rasamala!
God! Bener-bener yang nyambut keluarga abang cuma ber-5. Ga enaaaakk banget sama keluarganya abang. Kayak ga dihargain gitu.
Alhamdulillah beberapa menit kemudian yangkung dan yangti sampe. Yangti juga heran kenapa tante-tante saya (adeknya ibu) ga dateng pada waktunya.
Ga lama kemudia Mila dan Doni dateng. Mereka bantu-bantu di dapur. Nyiapin suguhan buat para tamu.

Aduuuuhh, itu empal gentong ternyata belom dikasih garem jadi hambar rasanya. Rrrrr..

Tapi Alhamdulillah acara berjalan lancar. Ane udah diiket jadi calon istri orang, buuuu!
Tante-tante saya akhirnya pada dateng. Yang 1 baru dateng jam 11, yang 1 dateng pas orang-orang udah pada bubar..
Yak bagus! Ngambeg to the max sama tante-tante.

Hadooohh, baru lamaran aja udah hectic nguras tenaga begini. Gimana resepsiiiii?!


n.b: Doni, Mila.. Makasih banget-banget ya udah dateng dan mau repot-repot bantuin. Maaf banget mendadak nyuruh dateng. Erwin.. Cepet sembuh ya!

Lika-Liku Lamaran ep. 1

Kelamaan ga ngepost dan udah banyak banget berbagai kejadian menimpa. Emang yang namanya hidup pasti ada ujiannya. Dari mulai hal sepele sampe yang menyinggung hati. Apalagi jika kita berencana buat nikah. Adaaaa aja kerikilnya.

Kan udah dari awal tahun si Abang ada rencana buat ngelamar saya setelah lebaran tahun ini. Akhirnya setelah diskusi dan cari-cari tanggal yang pas, diputuskan tanggal 23 September-lah lamarannya. Setelah sekian lama memperjuangkan keinginan ke masing-masing keluarga, akhirnya di-approve juga sama orang tua. Tapiiii..
Tiba-tiba aja H-2 minggu si Abang ngabarin kalo dia dapet email pemberitahuan bahwa dia menang undian tur gratis ke Bangkok-Patayya tanggal 20-22 September. Murkalah saya. Gimana engga? Saya sempet ada rencana ke Bandung sama sahabat-sahabat saya tanggal 15 Sept, tapi saya bilang supaya diundur bulan Oktober karena saya mau persiapan lamaran. Eh ini si Abang malah pergi ke luar negeri dan baru balik H-1!
Emangnya ga koordinasi dulu sama keluarganya buat acara ini?! Emangnya lamaran itu cuma acara sepele doang minta anak perempuan sama ortunya jadi ga perlu persiapan matang?!
Banyak yang bilang kalo saya terlalu kekanak-kanakan, kasian si Abang karena ini kesempatan bagus buat dia, bla bla bla.
Emangnya ngelamar gue bukan kesempatan juga ya?
Emangnya pergi ke Bangkok gratis yang pernah Abang dapetin tahun 2009 ga cukup?!
Pergi ke Bangkok tuh bisa kapan aja. Kesempatan itu cuma bisa dinikmatin 3 hari 2 malem. Dan lagi walaupun jalan-jalan gratis tapi tetep aja ngeluarin duit buat airport tax, transport PP bandara, dan oleh-oleh kan?

Bandingkan dengan kesempatan buat ngejadiin saya istri yang dimulai dengan lamaran. Emang mau kalo acaranya berantakan? Ini buat masa depan Abang juga looh, buat jangka panjang.

Kesel banget karena saya ngerasa udah ngorbanin waktu sama sahabat-sahabat saya buat acara kami berdua, tapi dianya malah enak-enakan ke Bangkok! Ngerasa banget kalo dia tuh ga mikirin perasaan saya. Udah gitu ga pake nanya dulu ke saya, langsung konfirmasi ke pihak pengundi buat ngambil pergi ke sana.

Setelah saya ngamuk, si Abang ngehubungin pihak pengundi buat ganti tanggal keberangkatan sehubungan dengan acara lamaran ini.
Yah, mungkin udah rejeki si Abang kali ya. Pihak pengundi malah memajukan tanggal keberangkatan tur jadi tanggal 16-19 Sept.
Masih keki-kah saya? Tentu! Maunya saya Abang tuh perginya nanti aja setelah acara lamaran. Kenapa malah dimajuin?? Udah saya bela-belain mundurin acara jalan-jalan ke Bandung, mana timbal balik buat saya??

Untung sahabat-sahabat saya (Ucrin) selalu ada buat saya. Mereka yang menenangkan emosi saya supaya saya ga terlalu meledak-ledak dan ga jadi egois. Si Erwin ngusulin, "Lo bikin keki balik aja si Abang, dengan cara membuat dia menyesal udah pergi ninggalin lo di sini."
Good idea!

Pokoknya selama si Abang ke Bangkok, saya akan bersikap seolah-olah saya single. Saya ganti cover photo dan PP saya di fb dan twitter yang dua-duanya lagi bareng Abang jadi sama Ucrin. Sepele emang, tapi si Abang biasanya keki berat. Setiap ada orang yang bertanya tentang Abang juga saya jawab "gak tau" seakan-akan Abang tuh makhluk alien di muka bumi.

Bodo, bodo, bodo.. Mau dibilang egois kek, childish kek, emosional, bla bla bla bla.. Saya punya alasan kenapa saya bersikap kayak gini. Dan saya cuma bisa jawab: EGP IL!*

*Emang Gue Pikirin, Item Lu!