Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Jumat, 17 Februari 2012

Tamparan


Rabu siang, saya chat dengan seorang kawan lama. Kami bertukar cerita. Hingga pada satu titik cerita tentang Tyas. Saya tidak begitu dekat dengan Tyas. Tapi kami punya hubungan yang baik. Tyas adalah seseorang yang kemudian saya ketahui pernah ‘tersakiti’ oleh ulah Andrian. Kejadiannya dulu, sebelum saya dan Andrian berpacaran. Saya mengetahui ceritanya dari seorang teman, yang kemudian saya konfirmasikan ke Andrian. Andrian mengakuinya dan mengatakan bahwa dia tidak sadar saat itu sudah menyakiti hati seorang perempuan. Tyas merasa tersakiti hingga menangis.
Saya meradang. Kalau Andrian pernah sekali menyakiti hati perempuan, bukan tidak mungkin dia akan melakukannya lagi ke saya. Saya benci laki-laki yang membuat seorang perempuan menangis.
Saya tahu Andrian sedang online, lalu saya kirimkan dia email dengan kata-kata pedas. Dia pilih saya tampar, atau saya perlakukan dia seperti halnya dia memperlakukan Tyas.
Lama kemudian, Andrian membalas email saya:

Aku kan udah cerita dan buat pengakuan betapa brengseknya abang udah nyakitin Tyas. Abang mengakui itu kok, hmm abang juga gak kebayang kalo sampe dapet balesan dari neng. Abang ga tau akan sehancur apa abang nanti, mungkin lebih dari yang Tyas rasain. Abang tuh dari dulu pengen banget minta maaf langsung ke Tyas, tapi sahabatnya bilang ga usah, katanya mending abang bener2 ga usah ganggu hidupnya lagi.
Makanya sekarang ini abang berusaha banget gimana caranya bisa mentreat neng sebaik mungkin, gak mau membiarkan masalah berlarut. Yah mungkin karena ketakutan abang itu. Abang bener2 berusaha gimana caranya menebus dosa abang yang dulu dengan terus menjaga diri dan berbuat yang terbaik buat Neng (mungkin emang masih belum sangat baik). Itu juga alesannya kenapa abang selalu minta neng ngomong kalo ada masalah, abang gak mau kaya dulu yang gak sadar udah nyakitin Tyas. Abang pengen neng langsung bilang setiap abang melakukan kesalahan atau melakukan hal yang gak mengenakkan, abang juga selalu berusaha untuk lebih aware dan langsung sadar akan kesalahan yang abang perbuat tanpa perlu disadarkan.
Saat ini terserah neng mau membalas dengan cara apa ke abang atas kelakuan abang terhadap Tyas dulu, tapi abang mohon dengan sangat jangan ngebales dengan hal yang sama. *netes*
-Abang-

 Baiklah, mungkin saya terlalu keras kepada Andrian. Saya seperti tidak mendengarkan penjelasannya lebih dulu. Padahal segala sesuatunya harus dikomunikasikan. Tapi apa yang saya lakukan merupakan bentuk penolakan saya untuk diperlakukan semena-mena.

Dear kamu yang akan membaca blog ini, aku ga pernah tau bagaimana kamu di masa lalu. Kamu dan mantan-mantanmu, kamu dan para penggilamu, dan kamu dengan wanita-wanita lain. Tapi jangan pernah anggap aku sama dengan mereka. Dan aku juga tak mau menjadi atau dijadikan seperti Tyas olehmu. Hingga detik inipun jujur aku masih meragukan dirimu. Aku tahu sudah lebih dari 1.000 hari kita bersama. Tapi aku butuh pembuktian yang lebih dari selama ini. Dan aku menunggumu hingga aku merasa yakin kalo kamulah orang yang tepat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.