Blog Archive

Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Sabtu, 04 November 2017

The Question Inside My Head: Why Not Indonesia?

Seorang teman pernah bilang ke saya, kalau dia cuma akan pergi keluar negeri ke Arab Saudi buat ibadah haji/umroh. Selebihnya dia akan travelling di Indonesia aja. Gak tau itu maksudnya nyindir saya apa gimana, tapi saya punya 1 alasan panjang kenapa saya selalu travelling ke LN dibanding ke Indonesia sendiri. Do i not love to my own country?

Of course, i do really love my country Indonesia. But at this time, it's impossible for me to travel to Indonesia. Because my baby is just 2 years old. Seperti yang kita tau, soal wisata alam Indonesia itu rajanya. Apa sih yang gak dipunya Indonesia?

Air terjun? Banyak
Pantai, laut? Banyak
Gunung berapi? Banyak
Pantai pasir pink? Ada
Laut ubur-ubur? Ada
Laut buat surfing? Ada
Great corral reef? Ada
Laut yang ada tawar sama asinnya? Ada
Gunung bersalju? Ada
Hewan purbakala? Ada
Liat milkyway? Bisaaaa

Tapi masalahnyaaa, itu semua gak bisa dinikmatin kalo kita bawa balita. Ya masa snorkeling-an tengah laut bawa bayik. Ya masa trekking naek gunung bawa bayik, bawa diri aja susah. Terus buat mencapai wisata alam yang bagus-bagus gitu biasanya butuh pengorbanan perjalanan yang agak sulit. Makin sulit treknya, makin cakep view yang didapet. Mamam aja tuh kalo bawa-bawa bayik. Belom lagi perlengkapannya, belom lagi kalo si bayik rewel. Idih. Bayangin aja saya udah alergi.

Itulah kenapa saya lebih suka jalan-jalan ke LN saat ini. Itupun di LN bukan wisata alam yang saya kunjungin. Tapi tempat-tempat wisata yang ada atraksinya, di mana anak-anak juga bisa main.

Waktu ke Sydney taun 2016 kami cuma mampir ke Sydney Wildlife Zoo, Madame Tussaud, sama Blue Mountain buat nyobain Scenic Railway. Opera House, Sydney Univ, dan Bondi Beach cuma disamperin buat numpang selfie. Selebihnya kami cuma ngiter-ngiter menikmati suasana kota Sydney yang jauh lebih syahdu dari Jakarta.

Ke Hongkong-Macau juga gitu. Tempat wisata yang kami kunjungi cuma Disneyland dan Ocean Park. Macau juga cuma numpang foto di depan Macau Fisherman's Wharf. Sisanya sama kayak Sydney, cuma menikmati suasana daerah Causeway Bay yang lebih "hidup" pas malem daripada siang.

Terus sebelnya ada aja gitu sodara yang komen, "bukannya umroh dulu malah ke negara lain". Ya kalo ada duit lebih mah pengen banget umroh yang biayanya 25jt/orang itu. Terus itu gimana caranya ibadah ya kalo umroh bawa-bawa bayik? Saya aja solat biasa kalo deket-deket si Niqu bakal diganggu. Mukena ditarik-tariklah, pas sujud punggung dinaekinlah, belom lagi pas duduk tahiyat si Niqu suka iseng masuk ke dalem mukena. Kalo umroh Niqu-nya gak dibawa akuh gak maaauuuuu. Gak tega juga. Ninggalin Niqu ke kantor beberapa jam aja kepikiran, apalagi ini 2 mingguan.

Anyway, saya sendiri kepengen banget travelling ke Indonesia tapi kayaknya harus tunggu anak-anak gedean. Jujur saya sedih karena kalo ada employee gathering divisi saya udah gak pernah ikutan lagi. Padahal mereka pergi ke tempat-tempat wisata yang sepertinya menyenangkan.
Terakhir kali saya ikutan tahun 2013. Waktu itu kami ke Lombok dan itu salah 1 trip termewah yang kami sedivisi pernah rasakan. Tahun-tahun berikutnya saya udah gak ikutan lagi karena saya hamil dan Niqu lahir. Total sudah 4 destinasi yang saya lewati: Belitung, Pulau Pari, Yogyakarta, dan Peucang. Dan sepertinya saya akan melewati lagi open trip tahun depan yang sepertinya akan ke Bali.

:( :( :(

What Would You Do If You Were Emma Thompson?

Gara-gara abis nonton The Corpse Bride, saya jadi nyari tau tentang kehidupan pembuatnya, yaitu Tim Burton.

Setau saya selama ini Tim Burton adalah suami dari Helena Bonham Carter (salah 1 aktris favorit saya), dan sering banget ngejadiin Jhonny Depp dan Helena main bareng di film-film karyanya. Sampe-sampe saya mikir, ini suami gak cemburu apah bininya sering banget maen pelem sama aktor ganteng multitalenta?

Sampai akhirnya saya menemukan fakta bahwa Tim Burton dan Helena Bonham Carter gak pernah merit, but they lived together and already have 2 children and broken up since 2014.

Helena sendiri ngedapetin Tim Burton dengan cara ngerebut dari tunangannya, Lisa Marie. Sebelum sama Tim Burton, Helena pernah melakukan hal serupa. Dia jadi selingkuhan suami pertamanya Emma Thompson, Kenneth Branagh. Emma dan Kenneth nikah selama 6 tahun dari tahun 1989-1995. Tapi kemudian Kenneth affair sama Helena di tahun 1994. Akhirnya Emma-Kenneth cerai di tahun 1995, menyisakan Emma yang depresi. Beruntung abis itu Emma ketemu sama cowok yang akhirnya jadi suaminya sampe sekarang.

Kenneth-Helena sendiri melanjutkan hubungan sampe tahun 1999. Baru di tahun 2001 Helena ketemu Tim Burton terus mereka "kumpul kebo" selama 13 taun.

Saya agak sedih mengetahui fakta ini karena baik Emma Thompson dan Helena Bonham Carter adalah 2 aktris favorit saya yang saya niatin bikinin tulisan sendiri masing-masing di blog.

Sependek pengetahuan saya, kayaknya Emma Thompson dan Helena Bonham Carter pernah main di film yang sama yaitu serial Harry Potter. Emma Thompson sebagai Prof. Trelawney guru kelas Ramalan-nya Harry dkk, sedangkan Helena B.C. sebagai Bellatrix Lastrange musuhnya Harry yang ngebunuh godfather-nya Harry, Sirius Black. Saya gak inget apakah Prof. Trelawney dan Bellatrix Lastrange pernah ada di 1 scene yang sama.

Tapi kalo hal ini terjadi, dan kalo saya jadi Emma, mungkin saya akan ngeluarin 3 unforgivable curses.

*Imperio! Masuk ke got!*
*Crucio!*
*AVADA KEDAVRA!*

Rabu, 01 November 2017

Travelling Bawa Bayi, Say Bye To Backpacking

Pengalaman 2x bawa balita jalan-jalan ke luar negeri, ada banyak hal yang membuat kita mesti rela ngelebihin budget buat kenyamanan si bayi. Sekarang setiap kali ngerencanain jalan-jalan, saya dan Babeh selalu realistis buat nabung lebih giat. Gak bisa deh kita sok-sokan backpacking lagi kayak dulu.

1. Tiket Pesawat
Say bye to budget airlines. Gak dipungkiri bahwa yang bikin tiket pesawat budget airlines itu murah karena ada beberapa hal yang tidak diikutsertakan dalam biaya tiket, seperti: bagasi, makan minum, dll.
Pengalaman kami ke Australia naik maskapai  A berkategori budget airlines dengan biaya Rp 10jt ber-3 PP. Tentunya tidak termasuk bagasi dan makan. Setelah diskusi panjang lebar dan berusaha realistis bahwa kami harus bawa perlengkapan bocah segambreng, kemudian kemungkinan Niqu yang akan kelaparan selama penerbangan apalagi sampe 8 jam, maka kami pun menambah biaya untuk bagasi dan makan. Total sekitar Rp 12jt.
Belum lagi jarak kursi pesawat antara di depan dan belakang yang berdekatan. Kaki jadi gak bisa selonjoran enak padahal sendiri aja udah pegel, apalagi kalo mesti mangku bayi. Sedangkan kalo pilih seat akan dikenakan charge lagi. Mahaaaalll!
Ditambah lagi dengan pesawat yang mesti transit ke 1 kota dan ternyata waktu transitnya lebih dari 12 jam. Alhasil kami harus pesan hotel lagi (budget hotel tentunya).
Kalau dihitung-hitung, better dulu kita pilih maskapai nonbudget macem GA tapi penerbangan direct hanya 6 jam dan biaya sudah termasuk bagasi 30kg dan makan.
Hal inilah yang kami rasakan ketika ke Hongkong dengan menggunakan maskapai GA. Selain mendapat tempat duduk yang nyaman, kami gak perlu repot mikirin bagasi lagi dan makan karena sudah disediakan.
Sebagai contoh, tiket pesawat ke Seoul dengan maskapai budget airlines A, tiket PP saja hanya Rp 5.6jt. Apabila ditambah bagasi 20 kilo dan makan untuk perjalanan PP, total menjadi Rp 6.9jt. Itupun pake transit dulu di 1 kota.
Sedangkan maskapai nonbudget airline GA, tiket PP ke Seoul "hanya" Rp 7.5jt sudah bagasi 30 kilo dan makan.
Buat kami, budget airline hanya cocok untuk penerbangan dengan waktu tempuh maksimal 4 jam, seperti travelling ke negara-negara ASEAN. Lebih dari itu, sebaiknya nonbudget airline saja.

2. Penginapan
Say goodbye to hostel. Gak mungkin bawa anak kecil ke penginapan dengan dormitori untuk banyak orang sekaligus apalagi campur dengan para traveller lain. Yang namanya balita waktu tidurnya masih ajaib. Suka-suka dia kapan mau melek atau tidur. Yang jelas tidurnya harus tenang dan nyaman. Dan tentunya gak bisa campur dengan orang lain even kita pergi sama sahabat sendiri.
Kecuali kalo anaknya banyak sampe bisa nyewa dorm sendiri, hostel baru bisa jadi pilihan.
Tapi hostel kebanyakan kamar mandinya sharing. Ini yang paling bikin gak nyaman apalagi kalo bawa balita aktif yang proses mandinya pake drama.
Jadi sekarang kami kalo pilih penginapan prefer pake Airbnb atau mentok-mentoknya budget hotel kayak Hotel Tune In di KL atau Pop Hotel di Bali. Tapi tetep jagoan saya Airbnb karena kita bisa pilih sewa apartemen yang menyediakan dapur. Lumayan bisa menghemat biaya makan dan bagasi karena kita gak perlu bawa-bawa rice cooker dan teman-temannya.

3. Banyak tambahan perlengkapan
Bawa balita = bawa stroller, bawa gendongan, bawa makanan minuman sendiri, bawa mainan favorit anak, bawa popok, pakaian ganti yang banyak, tas khusus sendiri buat keperluan bayi, dan lain sebagainya. Inilah kenapa kita perlu bagasi buat bawa bawaan segambreng ini. Cabin baggage 7 kilo? MANA CUKUP!!

Sabtu, 23 September 2017

Pengalaman Pertama ke GATF - Harga Tiket dan Penentuan Tanggal

Melanjutkan postingan sebelumnya, saya masih kepengen bahas pengalaman saya ke GATF kemarin. Jujur saja perburuan tiket saya kali ini dibantu oleh salah seorang teman saya yang merupakan pegawai Garuda. Dia banyak membantu memberikan saya informasi soal penentuan tanggal dan membantu pada saat proses booking tiket sampai dengan tiket saya di-issued.

Berdasarkan informasinya, saya baru tau kalo ternyata tiket pesawat itu beda harganya tergantung dari jenis kelasnya yang dibagi sebagai berikut:

KATEGORI
KELAS
RATE
Economy
Y
Highest of all category
Economy
B

Economy
M

Economy
K

Economy
N

Economy Promo
Q

Economy Promo
T

Economy Promo
V

Super Saving Economy
S

Super Saving Economy
H

Super Saving Economy
L
Lowest of all category

Tabel di atas itu untuk tiket ekonomi standar di luar kategori First Class dan Business Class. Menilik dari tabel, yang paling atas adalah kelas tiket yang harganya paling tinggi, dan yang paling bawah adalah yang harganya paling rendah. Untuk kelas tiket dengan kategori Economy (Y, B, M, K, N) adalah harga tiket ekonomi normal tanpa promo/potongan/diskon apapun. Sedangkan kategori Economy Promo (Q, T, V) adalah harga tiket ekonomi normal yang didiskon/sedang promo seperti pada saat GATF ini. Kategori Super Saving Economy (S, H, L) adalah harga tiket spesial pada saat event promo, seperti pada jam-jam Happy Hours di GATF ini. Artinya harga tiket yang sudah promo kemudian didiskon kembali. Dan yang terendah dan paling banyak diincar dari itu semua tentunya tiket pesawat kelas L.

Lho kok dari masing-masing kategori itu masih ada pembagian kelas lagi sih?

Iya, karena semuanya ditentukan oleh tanggal keberangkatan. Untuk tiket-tiket keberangkatan bertepatan pada saat high season tentunya harganya lebih mahal daripada yang low season. Bisa ditebak, high season adalah musim liburan atau terdapat event khusus di tempat tujuan kita, atau sedang musim khusus yang dinantikan seperti pada saat musim semi. Makanya di sini kita mesti pintar-pintar cari tanggal.

Tips mencari tanggal supaya bisa dapet tiket termurah promo GATF adalah, cari tanggal yang jauh-jauh dari hari libur. Weekend, Jumat, tanggal merah, hari kejepit, dan H-1 sebelum hari libur adalah tanggal-tanggal yang harus dihindari. Selama GATF proses saya menentukan tanggal memakan waktu hampir 1 jam. Sebenernya saya sendiri sudah menyiapkan 6 opsi tanggal PP tapi sayangnya semuanya ada saja yang bentrok dengan hari libur, atau hari kejepit. Jadi saya tidak bisa mendapatkan tiket kelas L. Setelah berkali-kali ganti tanggal akhirnya dapet juga tanggal dengan harga tiket kelas L ke Korea PP sebesar Rp 4.6jt :)
*sujud syukur*

Btw, seorang temen kantor saya -sebut saja dia Rara, dan memang nama sebenarnya- di GATF Maret 2017 lalu berhasil dapet tiket PP ke Korea Rp 3.7jt aja! Sedangkan saya di GATF September ini dapetnya Rp 4.6jt. Infonya sih, memang GATF kali ini harganya lebih mahal dibandingin yang lalu. Saya gak tau juga kenapa.

Oiya, jika kita males atau gak sempet ke GATF, gak perlu dateng ke GATF buat dapetin tiket. Berdasarkan pengalaman sepupunya temen, cukup menghubungi travel agent yang menjadi peserta GATF 1-2 hari sebelum GATF dimulai. Kemudian lakukan prebooking tiket dengan memberikan nama sesuai paspor dan tanggal keberangkatan sekaligus pulang. Jangan lupa minta booking Happy Hours juga. Pada hari pertama GATF hubungi kembali si travel agent untuk proses selanjutnya. Cuma kalo kita pengen dapetin cashback sih gak bisa pake cara ini. Harus dateng langsung.

Selanjutnya mengenai ketentuan masa tinggal. Saya pernah blogwalking dan ada blogger yang menuliskan masa tinggal di negara Asia yang hanya 7 hari. Namun ada juga yang berpendapat bahwa hal tersebut tergantung dengan ketentuan visa yang kita dapatkan. Alhamdulillah saya mendapat pencerahan dari teman saya yang kerja di Garuda. Menurutnya salah 1 poin ketentuan pembelian tiket GATF adalah jarak antara tanggal keberangkatan dan tanggal pulang yang sudah ditentukan pihak maskapai. Tentunya hal inilah yang menentukan masa liburan kita di negara tujuan. Berikut info yang saya dapatkan:

RUTE INTERNASIONAL
LAMA HARI
Singapura
7
Kuala Lumpur
7
Bangkok
7
Mumbai
7
Hongkong
14
Guangzhou
14
Beijing
14
Shanghai
14
Chengdu
14
Tokyo
14
Osaka
14
Seoul
14
Sydney
14
Melbourne
14
Perth
14
Amsterdam
21
London
21

Dari tabel di atas, kira-kira contohnya kayak gini. Misal saya mau ke Melbourne. Antara tanggal keberangkatan yang saya pesan dengan tanggal kepulangan saya adalah 14 hari. Walaupun saya dapet visa 30 hari, tetap saja sesuai ketentuan pemesanan tiket pulang dan pergi pada saat GATF adalah 14 hari. Kalo diperhatikan, makin mahal harga tiket suatu rute, makin lama waktu penerbangan yang dibutuhkan, maka makin lama pula masa tinggal yang didapat. Yang jelas, hal di atas hanya berlaku untuk pembelian tiket rute internasional, dan tidak berlaku untuk rute domestik. Yaiyalah masa di negara sendiri dibatesin :)

Pengalaman Pertama Ke GATF - Kententuan Cashback

Kemarin, 22 September 2017, untuk pertama kalinya saya datang ke GATF di JCC. Tujuan saya jelas: beli tiket pesawat ke Korea semurah-murahnya!

Seperti halnya GATF sebelumnya yang bekerja sama dengan BNI, GATF kali ini menawarkan promo cashback sampai dengan Rp 1.5jt bagi pemegang Kartu Kredit BNI Premium dan Rp 1jt bagi pemegang Kartu Debit BNI Garuda. Berikut ketentuannya yang saya contek dari visitor's guide GATF 2017 Fase 2 (22-24 September 2017):

A. Cashback Kartu Kredit BNI Premium
1.     Kartu kredit yang bisa dapet cashback adalah:
-         Kartu Kredit Garuda BNI Platinum dan Signature
-         Kartu Kredit BNI Platinum
-         Kartu Kredit BNI Infinite
*gak berlaku buat Kartu Kredit iB Hasanah Card dan Corporate Card
2.     Ada 275 gelang cashback/hari/nama nasabah untuk 550 tiket PP;
3.  Kalau mau dapet gelang cashback kita harus antri dulu di BNI Ticket Box yang mana orang-orang udah pada mulai antri dari Subuh, padahal pintu JCC baru buka jam 9 pagi) dengan nunjukin KTP/SIM/Paspor asli yang masih berlaku (bukan fotocopy atau foto di HP);
4.    1 orang pemegang Kartu Kredit hanya berhak mendapatkan 1 gelang cashback dan hanya berlaku di hari yang sama;
5.    1 gelang cashback hanya untuk maksimal 2 tiket PP (harus PP, gak boleh one way dan bukan paket tur);
6.  Total transaksi di sales draft harus sesuai dengan total transaksi pada bukti pembelian/invoice/print out ticket;
7.    Pemegang Kartu Kredit harus bertransaksi di Travel Agent peserta GATF selama event berlangsung;
8.  Cashback dapat diklaim melalui Redemption Booth dengan membawa gelang cashback, Kartu Kredit, dan bukti pembelian. Gelang gak boleh dalam keadaan rusak atau dilepas;
9.   Nama pada Kartu Kredit harus sama dengan KTP/SIM/Paspor asli (tidak boleh diwakilkan);
10. Pemegang Kartu Kredit gak harus ikut dalam perjalanan. Jadi misalkan saya punya kartu kredit BNI dan beli tiket buat bapak ibu saya, terus saya claim cashback, itu boleh. Asal yang antri dan urus semua pembelian tiket saya sendiri;
11. Besarnya cashback adalah sebagai berikut:
Harga Tiket/Rute
Cashback
Kuota/Hari
≥ Rp 4.000.000,- (Internasional)
Rp 1.500.000,-
50
< Rp 4.000.000 (Internasional)
Rp 650.000,-
150
Domestik
Rp 500.000,-
300
Jakarta Singapura
Rp 950.000,-
50

12. Apabila kuota cashback tertinggi habis, maka pemegang gelang selanjutnya akan dapet cashback dengan tiering berikutnya (kecuali Jakarta-Singapura);
13. Cashback akan dikreditkan ke tagihan Kartu Kredit paling lambat 1.5 bulan setelah transaksi;
14. Promo ini gak berlaku pada saat blackout date. Kita bisa tanya travel agent kapan aja black out date;
15. Promo harga tiket serendah-rendahnya ada pada saat Happy Hours yaitu pada jam 10.00-13.00 dan 16.00-18.00;
16. Syarat dan ketentuan lain yang bisa ditanyakan pada travel agent.

B. Cashback Kartu Debit BNI Garuda
1.     Kartu debit yang bisa dapet cashback adalah kartu debit BNI Garuda saja;
2.     Ada 500 cashback/hari untuk pemegang Kartu Debit BNI Garuda;
3.  Pemegang Kartu Debit BNI Garuda gak perlu ngantri di BNI Ticket Box dan gak perlu pake gelang cashback;
4.   1 orang pemegang Kartu Debit BNI Garuda berhak mendapatkan cashback untuk nominal transaksi sesuai dengan tiering program (berlaku penggabungan struk);
5.     Struk yang berlaku adalah struk transaksi di atas jam 10.30 WIB;
6.  Pemegang Kartu Debit BNI Garuda harus bertransaksi di Travel Agent peserta GATF selama event berlangsung tidak terbatas pada pembelian tiket saja, namun juga include pembelian paket tur, koper, merchandise, dll;
7.     Cashback berlaku untuk kelipatan transaksi dengan maksimum 2x/kartu/hari;
8.  Cashback dapat diklaim setelah pembelian melalui Redemption Counter Kartu Debit dengan membawa struk transaksi, nota pembelian, e-ticket, dan bukti pembelian lainnya;
9. Pelayanan cashback di redemption counter Kartu Debit sesuai dengan antrian barisan yang lebih dulu melengkapi persyaratan yang diminta;
10. Nama pada Kartu Debit harus sama dengan KTP/SIM/Paspor asli (tidak boleh diwakilkan)
11. Pemegang Kartu Debit BNI Garuda gak harus ikut dalam perjalanan;
12. Besarnya cashback adalah sebagai berikut:
Nilai Transaksi
Cashback
Kuota/Hari
≥ Rp 5.000.000,-
Rp 1.000.000,-
150
≥ Rp 3.000.000,-
Rp 500.000,-
350

13. Apabila kuota cashback tertinggi habis, maka yang selanjutnya akan dapet cashback dengan tiering berikutnya;
14. Cashback akan dikreditkan ke rekening nasabah paling lambat 1.5 bulan setelah event GATF berakhir.

C. Cashback Kartu Kredit BNI Syariah iB Hasanah Card
Sesungguhnya ini gak ada di brosur visitor’s guide jadi saya nulis ini berdasarkan pengalaman pribadi sebagai pengguna iB Hasanah Card.
1.     Jenis kartu kredit yang bisa dapet cashback adalah iB Hasanah Card jenis apapun (Classic, Gold, Platinum);
2.     Tidak perlu menggunakan gelang cashback dan tidak perlu antri di booth manapun;
3.     Untuk claim cashback tidak perlu mengantri di booth/counter manapun;
4.  Data penerima cashback akan ditarik secara otomatis by system dan akan dikreditkan ke tagihan kartu kredit iB Hasanah Card max 1 bulan setelah transaksi;
5.     Pemegang Kartu Kredit iB Hasanah Card gak harus ikut dalam perjalanan;
6.  Besarnya cashback adalah sebesar 10% untuk setiap transaksi minimum Rp 1jt dengan max cashback sebesar Rp 300rb. Maksudnya kalo saya transaksi Rp 2jt maka saya dapet cashback 10% yaitu Rp 200rb Tapi kalo saya transaksi Rp 4jt maka saya dapet cashback hanya Rp 300rb bukan Rp 400rb. Karena sesuai ketentuan cashback maksimum hanya sampai dengan Rp 300rb.
7.     Cicilan 0% selama 6 bulan atau 12 bulan untuk transaksi di atas Rp 3jt.
Seluruh transaksi pembelian tiket pesawat hanya dilayani oleh travel agent bukan dengan pihak Garuda karena pihak Garuda sendiri sudah menyerahkan seluruhnya kepada travel agent yang menjadi peserta event. Booth Garuda hanya melayani pembuatan Garuda Miles dan redeem point Garuda Miles atau hal-hal lain di luar pembelian tiket.

Terus kalo gak punya kartu kredit BNI Premium atau kartu debit BNI Garuda atau iB Hasanah Card gimana?

Tetap bisa membeli tiket dengan harga promo pada saat Happy Hours secara cash namun tidak bisa mendapatkan cashback. Sebagai contoh, harga tiket pesawat termurah ke Korea PP pada saat Happy Hours adalah Rp 4.6jt. Kalo kita bisa dapetin cashback kartu kredit BNI Premium, harganya Rp 2.9jt PP!!

Btw, saya mau ulang lagi akh. Harga tiket pesawat termurah ke Korea PP pada saat Happy Hours adalah Rp 4.6jt. Kata “termurah” di situ artinya itu adalah belom tentu kita bisa dapet harga Rp 4.6jt even pada saat Happy Hours. Untuk selengkapnya saya akan bahas ini di postingan berikutnya.

Sabtu, 09 September 2017

The Question Inside My Head: Why I Choose To Be A Working Mom?

Berhubung hasrat lagi menggebu-gebu buat ngeblog jadi sekalian ajalah ya mumpung ada kesempatan.

Sering banget saya berkhayal ada orang yang bertanya kepada saya mengenai keputusan-keputusan dalam hidup saya. Dan dalam khayalan saya pun menjawab secara terstruktur. Kadang-kadang beneran ada orang yang mengajukan pertanyaan yang sama kayak dalam khayalan saya itu. Contohnya kayak gini:
Kenapa sih lebih milih jadi ibu pekerja ketimbang jadi ibu rumah tangga?
Saya punya beberapa poin jawaban untuk itu. Yang jelas poin nomer 1 adalah MASALAH EKONOMI. Sebenernya, tanpa saya bekerja penghasilan si Babeh mencukupi untuk keluarga kecil kami. KALO yang dibiayain sama si Babeh cuma kami ber-3 doang. Masalahnya, gak semua orang terlahir dengan kondisi yang enak. Dari sebelum nikah, Babeh udah bilang sama saya kalo dia merupakan tulang punggung di keluarganya. Gak perlulah ya orang lain tau detailnya bagaimana. Yang pasti dia merupakan harapan besar keluarga. Berhubung saya katanya istri solehah, ya masa saya mau ngatur-ngatur si Babeh harus fokus sama saya dan Niqu doang. Enggaklah, ntar kuwalat! Lagian si Babeh bisa jadi kayak sekarang berkat doa ibunya juga. Saya mah tinggal nikmatin hasil jadinya aja. Hahaha. Jadi saya harus pengertianlah gak nambah beban si Babeh, malah kalo bisa saya bantu. Buat saya, yang terpenting si Babeh masih memenuhi kebutuhan sehari-hari anak sama keperluan rumah tangga. Kalo kebutuhan saya pribadi kayaknya better saya cari duit sendiri. So, that's the reason number one why I choose to be a working mom.

Poin nomer 2 adalah karena kami butuh tabungan buat ina inu. Buat pendidikan anak mesti nabung dari sekarang. Buat pergi haji/umroh mesti nabung juga. Buat renovasi rumah, beli furniture, ina inu segala macem mesti nabung juga. Masalahnya kalo saya gak kerja, related to point 1, jadi gak ada sisa uang buat ditabung :P

Poin nomer 3 dikarenakan -in my opinion yang dipengaruhi oleh pemikiran ibu saya- bahwa perempuan itu harus punya penghasilan sendiri. No matter what you are, stay at home or working mom, you have to make your own money and have your own savings. Kenapa? Karena hidup itu ada ups and downs-nya. Jujur saya gak demen tuh ketika sebuah keluarga kena musibah, terus ada yang ngeluarin kalimat, "istrinya cuma ibu rumah tangga ya, gimana itu nanti anaknya?". Emang sih yang namanya rejeki dan cobaan itu munculnya gak diduga. Tapi kan masalah gak akan selesai dan rejeki gak akan nongol kalo gak diusahakan. Makanya kalopun saya jadi ibu rumah tangga, saya gak mau cuma ngandelin suami aja yang nyari uang. Entah itu apapun yang akan saya lakukan, saya sih maunya punya uang sendiri.

Poin nomor 4, karena saya gak bisa jualan, gak bisa ngajar, dan bisanya cuma administrative things yang related to kerja kantoran. Untuk hal ini saya salut banget dan mesti belajar banyak sama sahabat saya mila. Ibu rumah tangga 1 anak tanpa ART yang punya bisnis olshop dan segudang kesibukan.

Bagi saya sendiri, perempuan yang lebih milih jadi stay at home mom dan masih mengandalkan income dari suami doang sah-sah aja sih sebenernya asal jangan misuh-misuh aja gaji suaminya kurang, terus jadi curhat ke mana-mana suamiku begini suamiku begitu. Better kayak si Mila usaha nambah pundi-pundi keluarga.

Terus ya kalo ada yang komen-komen soal pilihan kita apakah jadi ibu rumah tangga atau ibu pekerja, better jadi budeg dulu sementara. Sebagaimana nasihat orang bijak, "we cannot satisfy everyone" jadi pasti ada ajalah yang suka komen-komenin kita. Yaaa.. sejatinya kan mulut diciptain salah satunya buat komen *opinitulul* padahal yang jalanin hidup kita-kita juga.

Coba itu yang bilang ibu rumah tangga tega ngebebanin semua biaya rumah tangga ke suami, sarjana tapi gak dimanfaatin, emang mau bantu ngurus anaknya si ibu?
Sama yang komen ibu pekerja tega ninggalin anak, emang mau bantu ngeringanin biaya bulanan si ibu?
Pret lah!


Sabtu, 26 Agustus 2017

Lucky in The End of 2016

Bulan April 2017 kemaren saya, Babeh, dan Niqu berkesempatan ke Hongkong gratis. Sebenernya gak all free cost juga sih. Cuma tiket pesawatnya aja.

Ceritanya di penghujung akhir 2016 ada promo khusus member Garuda yang punya Garuda Miles. Seperti yang diketahui bagi pemilik Garuda Miles, kalo beli tiket pesawat bisa di-redeem poin. Dan poin-poin Garuda Miles ini bisa dituker tiket pesawat. Makin jauh lokasi yang dituju ya makin banyak poin yang dibutuhin. Kalo gak salah nama program promo ini adalah GFF. Beda sama GATF & GOTF yang udah banyak diketahui orang, GFF gak banyak yang tau karena pengumumannya hanya via email pemilik Garuda Miles. Itu kalo si pemilik Garuda Miles buka email :P

Promo GFF ini lumayan banget karena penukaran poinnya hanya 10% dari poin yang seharusnya dibutuhkan. Misalkan kalo PP ke kota A butuh 5.000 poin, ini hanya dibutuhin 500 poin aja. Lumayan banget kaaann. Nah si Babeh waktu itu punya 19.000 poin. Poin Garuda Miles itu kan masa berlakunya cuma 1 tahun ya. Sayang banget kalo gak digunain terus angus. Kebetulan ada promo ini dan ternyata poinnya si Babeh bisa ditukerin tiket pesawat PP ber-3! Pilihannya yang bisa waktu itu: Inggris, Belanda, Australia, Jepang, Korea, Hongkong, negara-negara ASEAN, dan seluruh kota di Indonesia. Bukannya saya gak nasionalis karena gak mau wisata dalam negeri, tapi karena Indonesia itu bagusnya di wisata alam, dan saya gak kuat bawa-bawa balita ke laut atau ke gunung, jadi better nunggu Niqu agak gedean buat jelajah Indonesia. Jadilah tujuan kami dipersempit keluar negeri. Waktu itu tujuan utama kami Jepang, yang kedua Korea. Sayangnya kedua negara itu tiketnya habis terjual. Hix :(

Australia, Belanda, dan Inggris kami coret karena butuh visa dan poinnya gak cukup juga sih. Kami sengaja pilih negara yang gak perlu pake visa karena biaya visa mahal cyiint.. Apalagi mesti ngendepin uang dalam jumlah besar selama 3 bulan. Akhirnya pilihan jatuh ke Hongkong. Sebenernya baik saya maupun Babeh gak minat-minat amat ke Hongkong. Tapi Singapur, Malaysia, dan Thailand sudah kami coret dari daftar karena udah pernah ke sana sebelumnya, sedangkan negara ASEAN lain kami belum tertarik *sombong*

Jadilah kami booking tiket ke Hongkong dari tgl 12-18 April 2017. Sebenernya kalo gak promo ke Hongkong ber-3 PP itu butuh 150.000 poin. Tapi karena GFF ini cuma butuh 15.000 poin aja! BUT ada tax yang mesti kami bayar sebesar Rp 4juta. Tax apaan saya lupa. Entah airport tax atau apeulah. Jadi sebenernya gak gratis dong. Yaaa.. enggak! Hahahaha. Gapapalah anggep aja kayak ke Hongkong ber-3 PP Garuda cuma 4 jutak!!!

How's Life Today

Udah hampir 7 bulan absen dari blog, dan beberapa hari kemarin saya blogwalking nemu blog temen SMA. Jadi kangen curhat lagi di sini. Pengen update seputar kehidupan saya selama 7 bulan ini. Here we go:

  1. Alhamdulillah setelah sempet digalauin gara-gara penilaian 2015 yang mana saya "dikorbanin", penilaian tahun 2016 saya terhitung baik. Selain karena saya berusaha cukup keras supaya gak jadi korban lagi, pemimpin saya yang baru di tahun ini mau memperjuangkan divisi saya supaya dapet nilai lebih baik dari tahun kemarin, dan juga lebih objektif kasih penilaian.
  2. Maret 2017, selesai juga saya bayar utang-utang puasa akibat nifas yang jumlahnya sebulan full itu. Berat bangeud yes.
  3. Masih di bulan Maret 2017, divisi saya mengalami restrukturisasi. Ada beberapa fungsi yang dialihkan ke unit lain, ada juga yang ditambahkan ke unit saya. Saya sendiri mendapat jobdesc utama baru sehingga saya harus belajar lagi. Saya sendiri seneng sih dapet ilmu baru. Tapi sejak dapet jobdesc baru saya jadi lebih sering lembur terutama di akhir bulan. 
  4. April 2017, saya, Babeh, dan Niqu dapet tiket pesawat gratis ke Hongkong ber-3 PP. Cerita lengkapnya nanti aja :)
  5. Mei 2017, Niqu turned to 2 years old. Udah saatnya disapih tapi kok ya susye banget ye. Akhirnya selama 3 minggu setelah Niqu ultah, saya masih pumping walopun hasilnya cuma 30-40 cc. Setelah itu Niqu menolak sama sekali minum ASI perahan saya. Jadi yang tinggal masih nenen-nenen cantiq aja.
  6. 13 Agustus 2017, saya resmi menjalani LDM (long distance marriage) dengan si Babeh yang dapet beasiswa ke Korea selama 1.5 tahun.
  7. 20 Agustus 2017, adek saya yang tengilnya minta ampun kawin.

Kira-kira begitulah rangkuman kisah kehidupan saya sampai dengan bulan Agustus 2017 ini. Terus mengingat sebulan lagi umur saya jadi kepala 3, saya mau bikin resolusi:

  1. Banyakin makan buah dan sayur. Saya gak bermaksud diet, cuma pengen benerin pola makan aja. Berhubung saya orangnya picky eater, maunya makan enak tak bergizi, gak doyan sayur, gak doyan buah, gak doyan ikan kecuali sushi. Sebenernya pas hamil & menyusui udah banyakin buah & sayur, tapi akhir-akhir ini jadi balik lagi ke pola makan yang lama. Hehe.
  2. Kurangin micin & santen. Ini saya yakin bakal susah payah dilakuin. Buat santen sih oke, tapi kalo micin?? Hmm.. makanan favorit saya tuh mie rasa kari ayam 2 bungkus pake telor setengah mateng. Bener-bener godaan syaithon yang terkutuk.
  3. Solat tepat waktu. Ini susah banget diaplikasiinnya.
  4. Banyakin ibadah sunnah. Ini juga susah. Yang wajib aja susah :P
  5. Gak gampang emosian & jaga lidah buat gak nyakitin orang. Usaha yang paling ampuh kayaknya banyak-banyakin diem & jaga mood biar gak bete-an.
  6. Kurangin ngomongin orang. Tapi sayanya sendiri demen banget kepo soal orang lain. Sejauh ini saya berhasil ngurang-ngurangin gosip artis dengan gak nonton atau baca berita gosip. Tapi kalo soal gosip orang-orang sekitar nih yang susah banget dihindarin. Apalagi kalo lagi sama si Babeh. Bawaannya pengen cerita si ini si itu, tambah bumbu-bumbu komentar gak penting.
  7. Kurangin jajan. Banyakin nabung buat  ke Korea tahun depan & sering-sering sedekah. Nabung juga buat qurban. Inget kalo bisa jalan-jalan, berarti harus bisa qurban juga.
  8. Banyakin referensi sekolah buat Niqu. Kalo untuk PG dan TK udah dapet sih, yang belom itu untuk SD. Terus mesti sisihin uang persiapannya juga.
  9. Lebih aware buat merawat diri kayak flek-flek di muka, kaki yang pecah-pecah, dan kulit badan yang kering & busikan. Tapi kalo gitu sisihin duit lagi dong ya buat beli produk perawatannya. Adooohh..

Begitulah kira-kira resolusi yang saya buat di tengah-tengah tahun dan bukannya di awal tahun. Semoga aja ke-9 resolusi di atas bener-bener bisa saya jalanin. Ganbatte! Fighting!

Minggu, 29 Januari 2017

Not A Perfect (Traveller) Mom

Saya bukanlah supermom yang memiliki kemampuan melakukan banyak hal dan terlalu protektif terhadap anak saya. Jujur saja saya tidak bisa masak, saya tidak seru jika mengajak bermain, saya juga bukanlah seorang wanita yang rapih. Sometimes I was too confused what I had to do for my baby and then do nothing. Dengan segala keterbatasan kemampuan saya sebagai seorang ibu, saya berusaha segala cara what's good for my baby tapi tidak membuat saya stres dan repot.

Ketika pada akhirnya saya dan si Babeh membuat rencana perjalanan ke Australia, kami tau perjalanan kami kali ini tidak akan semudah ketika kami jalan-jalan masih berdua saja. Misalkan, dalam hal makanan. Kalau dulu kami masih bisa menahan lapar or do the brunch, but not this time. Bayi tidak bisa menahan lapar. Ketika waktunya makan maka dia akan mengeluarkan sinyal berupa rewel berkepanjangan, dan saya tidak mau itu terjadi dan menghancurkan perjalanan kami. Sebagian blog yang saya baca menyarankan membawa perlengkapan masak seperti rice cooker atau slow cooker -yang tentu saja disertai dengan membawa bahan-bahan makanan tentunya. Saya sempat berpikir untuk membawanya, tapi setelah kami coba masukkan ke dalam koper, ternyata tidak muat dan malah akan menambah bawaan dan bagasi kami. Akhirnya setelah berdiskusi dari segi efektivitas, saya memutuskan untuk menyisihkan budget lebih besar untuk makanan dengan: makan di restoran! Mudah, gak perlu ribet bawa barang-barang, gak perlu repot masak, gak perlu cuci-cuci juga, dan efektif dari segi waktu. Memang biaya makanan di Australia apalagi di kota Sydney begitu tinggi. Tapi porsinya pun sangat besar. Biasanya saya hanya membeli 1 porsi untuk makan berdua dengan Niqu. Malah kadang-kadang bertiga dengan si Babeh kalau dirasa porsinya terlalu banyak.

Selain soal makanan, juga soal destinasi wisata yang akan dikunjungi. Babeh sudah membuat itinerary perjalanan kami se-perfect mungkin. Dalam 1 hari ada 3-4 destinasi yang akan kami kunjungi. Saya ingatkan kepada Babeh bahwa kita membawa bayi dalam perjalanan jadi tidak usah terlalu idealis pergi ke 3-4 destinasi. "Jangan ngoyo!" kalau kata saya. 1-2 destinasi dalam 1 hari saja cukup. Memang akan menjadi kurang puas rasanya tapi saya tau betul bayi tidak bisa dipaksa jalan-jalan terlalu lama walaupun dia digendong atau naik stroller. Dan apa yang saya prediksikan menjadi kenyataan. Itinerary yang Babeh buat hancur berantakan. Ketika kami transit di Malaysia selama 12 jam pada saat berangkat, rencananya kami akan mampir untuk berfoto di depan Menara Petronas dan Art Museum di depan tulisan I Love KL. Realisasinya kami hanya berfoto sebentar di depan Menara Petronas.

Ketika tiba di Sydney pun begitu. Hari pertama harusnya ada 1-2 destinasi yang kami kunjungi. Realisasinya, Niqu tertidur dari jam 1 siang sampai jam 5 sore. Hari itu kami hanya mengunjungi kost sahabat saya si Dhoni di malam hari. Hari kedua dan seterusnya pun begitu. Kami mengalah dengan jam tidur-bangunnya Niqu. Kami baru berangkat setelah Niqu bangun dan lebih banyak beristirahat di tengah-tengah perjalanan. Salah dua destinasi yang kami lewatkan padahal ada di itinerary kami adalah The Rocks dan Victoria Building. Kami juga batal jalan-jalan di jalan setapak tepi laut yang menghubungkan Bondi Beach dan Coogie Walk. Kami baru sampai Bondi Beach menjelang Maghrib sehingga kami hanya bisa menikmati sunset di tepi pantai.

The worst dari perjalanan kami adalah ketika menaiki pesawat pulang dari Australia dan akan transit di Malaysia yang memakan waktu perjalanan sekitar 8 jam. Pada saat keberangkatan kami mendapat tiket di malam hari sehingga tidak terlalu menjadi masalah untuk kami karena Niqu tertidur pulas selama di pesawat, walaupun beberapa kali dia terbangun dan rewel dan itu adalah salah satu tidur malam paling tidak nyenyak yang pernah saya alami setelah melahirkan. Sayangnya pada saat pulang, kami mendapat tiket pesawat di siang hari. Pada saat take off tidak menjadi masalah karena Niqu saya nenenin. Our nightmare began in 3-4 hours before landing. Niqu rewel serewel-rewelnya. Nangis gak karuan berontak sana-sini. Orang India yang duduk di samping kami sampai harus pindah duduk ke seat belakang yang kosong. Semua mata tertuju ke kami. Ada yang merasa kasihan, ada yang merasa terganggu tentunya. Serombongan bapak-bapak dan ibu-ibu Malaysia mencoba membantu menenangkan Niqu tapi tidak berhasil. Si Babeh inisiatif menggendong sambil jalan-jalan di pesawat pun hanya bertahan beberapa menit. Anak-anak blasteran Jepang-Bule berusia 5-7 tahun yang duduk di depan kami pun juga turut menggoda Niqu. Awalnya Niqu tertarik tapi lama-lama dia bosan dan mulai rewel lagi. Niqu selalu menunjuk-nunjuk ke arah luar jendela. Saya tau sekali dia bosan di dalam pesawat dan pastinya lelah ingin tiduran di kasur. Saya coba nenenin yang ada malah payudara saya digigit keras-keras dan ditarik sampai luka. Saya benar-benar stres waktu itu. Lama sekali Niqu menangis dan tidak mau tidur.

Menjelang 1 jam sebelum landing di KLCC, Niqu akhirnya tertidur. Mungkin pada akhirnya dia menyerah pada energinya yang sudah terkuras habis. Saya dan si Babeh pun akhirnya bisa bernafas lega. Sampai di KLCC kami menyegerakan diri ke Tune In Hotel untuk beristirahat. Seharusnya sesuai itinerary kami bisa berjalan-jalan ke salah 1 destinasi terdekat di Kuala Lumpur. Tapi saya dan si Babeh begitu lelah dan saya lebih suka membiarkan Niqu tidur untuk mengistirahatkan punggungnya lebih lama di kasur.

Benar saja! Sampai di hotel Niqu terbangun dan dia guling-gulingan di atas kasurnya sambil tertawa-tawa.