Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Sabtu, 04 November 2017

The Question Inside My Head: Why Not Indonesia?

Seorang teman pernah bilang ke saya, kalau dia cuma akan pergi keluar negeri ke Arab Saudi buat ibadah haji/umroh. Selebihnya dia akan travelling di Indonesia aja. Gak tau itu maksudnya nyindir saya apa gimana, tapi saya punya 1 alasan panjang kenapa saya selalu travelling ke LN dibanding ke Indonesia sendiri. Do i not love to my own country?

Of course, i do really love my country Indonesia. But at this time, it's impossible for me to travel to Indonesia. Because my baby is just 2 years old. Seperti yang kita tau, soal wisata alam Indonesia itu rajanya. Apa sih yang gak dipunya Indonesia?

Air terjun? Banyak
Pantai, laut? Banyak
Gunung berapi? Banyak
Pantai pasir pink? Ada
Laut ubur-ubur? Ada
Laut buat surfing? Ada
Great corral reef? Ada
Laut yang ada tawar sama asinnya? Ada
Gunung bersalju? Ada
Hewan purbakala? Ada
Liat milkyway? Bisaaaa

Tapi masalahnyaaa, itu semua gak bisa dinikmatin kalo kita bawa balita. Ya masa snorkeling-an tengah laut bawa bayik. Ya masa trekking naek gunung bawa bayik, bawa diri aja susah. Terus buat mencapai wisata alam yang bagus-bagus gitu biasanya butuh pengorbanan perjalanan yang agak sulit. Makin sulit treknya, makin cakep view yang didapet. Mamam aja tuh kalo bawa-bawa bayik. Belom lagi perlengkapannya, belom lagi kalo si bayik rewel. Idih. Bayangin aja saya udah alergi.

Itulah kenapa saya lebih suka jalan-jalan ke LN saat ini. Itupun di LN bukan wisata alam yang saya kunjungin. Tapi tempat-tempat wisata yang ada atraksinya, di mana anak-anak juga bisa main.

Waktu ke Sydney taun 2016 kami cuma mampir ke Sydney Wildlife Zoo, Madame Tussaud, sama Blue Mountain buat nyobain Scenic Railway. Opera House, Sydney Univ, dan Bondi Beach cuma disamperin buat numpang selfie. Selebihnya kami cuma ngiter-ngiter menikmati suasana kota Sydney yang jauh lebih syahdu dari Jakarta.

Ke Hongkong-Macau juga gitu. Tempat wisata yang kami kunjungi cuma Disneyland dan Ocean Park. Macau juga cuma numpang foto di depan Macau Fisherman's Wharf. Sisanya sama kayak Sydney, cuma menikmati suasana daerah Causeway Bay yang lebih "hidup" pas malem daripada siang.

Terus sebelnya ada aja gitu sodara yang komen, "bukannya umroh dulu malah ke negara lain". Ya kalo ada duit lebih mah pengen banget umroh yang biayanya 25jt/orang itu. Terus itu gimana caranya ibadah ya kalo umroh bawa-bawa bayik? Saya aja solat biasa kalo deket-deket si Niqu bakal diganggu. Mukena ditarik-tariklah, pas sujud punggung dinaekinlah, belom lagi pas duduk tahiyat si Niqu suka iseng masuk ke dalem mukena. Kalo umroh Niqu-nya gak dibawa akuh gak maaauuuuu. Gak tega juga. Ninggalin Niqu ke kantor beberapa jam aja kepikiran, apalagi ini 2 mingguan.

Anyway, saya sendiri kepengen banget travelling ke Indonesia tapi kayaknya harus tunggu anak-anak gedean. Jujur saya sedih karena kalo ada employee gathering divisi saya udah gak pernah ikutan lagi. Padahal mereka pergi ke tempat-tempat wisata yang sepertinya menyenangkan.
Terakhir kali saya ikutan tahun 2013. Waktu itu kami ke Lombok dan itu salah 1 trip termewah yang kami sedivisi pernah rasakan. Tahun-tahun berikutnya saya udah gak ikutan lagi karena saya hamil dan Niqu lahir. Total sudah 4 destinasi yang saya lewati: Belitung, Pulau Pari, Yogyakarta, dan Peucang. Dan sepertinya saya akan melewati lagi open trip tahun depan yang sepertinya akan ke Bali.

:( :( :(

What Would You Do If You Were Emma Thompson?

Gara-gara abis nonton The Corpse Bride, saya jadi nyari tau tentang kehidupan pembuatnya, yaitu Tim Burton.

Setau saya selama ini Tim Burton adalah suami dari Helena Bonham Carter (salah 1 aktris favorit saya), dan sering banget ngejadiin Jhonny Depp dan Helena main bareng di film-film karyanya. Sampe-sampe saya mikir, ini suami gak cemburu apah bininya sering banget maen pelem sama aktor ganteng multitalenta?

Sampai akhirnya saya menemukan fakta bahwa Tim Burton dan Helena Bonham Carter gak pernah merit, but they lived together and already have 2 children and broken up since 2014.

Helena sendiri ngedapetin Tim Burton dengan cara ngerebut dari tunangannya, Lisa Marie. Sebelum sama Tim Burton, Helena pernah melakukan hal serupa. Dia jadi selingkuhan suami pertamanya Emma Thompson, Kenneth Branagh. Emma dan Kenneth nikah selama 6 tahun dari tahun 1989-1995. Tapi kemudian Kenneth affair sama Helena di tahun 1994. Akhirnya Emma-Kenneth cerai di tahun 1995, menyisakan Emma yang depresi. Beruntung abis itu Emma ketemu sama cowok yang akhirnya jadi suaminya sampe sekarang.

Kenneth-Helena sendiri melanjutkan hubungan sampe tahun 1999. Baru di tahun 2001 Helena ketemu Tim Burton terus mereka "kumpul kebo" selama 13 taun.

Saya agak sedih mengetahui fakta ini karena baik Emma Thompson dan Helena Bonham Carter adalah 2 aktris favorit saya yang saya niatin bikinin tulisan sendiri masing-masing di blog.

Sependek pengetahuan saya, kayaknya Emma Thompson dan Helena Bonham Carter pernah main di film yang sama yaitu serial Harry Potter. Emma Thompson sebagai Prof. Trelawney guru kelas Ramalan-nya Harry dkk, sedangkan Helena B.C. sebagai Bellatrix Lastrange musuhnya Harry yang ngebunuh godfather-nya Harry, Sirius Black. Saya gak inget apakah Prof. Trelawney dan Bellatrix Lastrange pernah ada di 1 scene yang sama.

Tapi kalo hal ini terjadi, dan kalo saya jadi Emma, mungkin saya akan ngeluarin 3 unforgivable curses.

*Imperio! Masuk ke got!*
*Crucio!*
*AVADA KEDAVRA!*

Rabu, 01 November 2017

Travelling Bawa Bayi, Say Bye To Backpacking

Pengalaman 2x bawa balita jalan-jalan ke luar negeri, ada banyak hal yang membuat kita mesti rela ngelebihin budget buat kenyamanan si bayi. Sekarang setiap kali ngerencanain jalan-jalan, saya dan Babeh selalu realistis buat nabung lebih giat. Gak bisa deh kita sok-sokan backpacking lagi kayak dulu.

1. Tiket Pesawat
Say bye to budget airlines. Gak dipungkiri bahwa yang bikin tiket pesawat budget airlines itu murah karena ada beberapa hal yang tidak diikutsertakan dalam biaya tiket, seperti: bagasi, makan minum, dll.
Pengalaman kami ke Australia naik maskapai  A berkategori budget airlines dengan biaya Rp 10jt ber-3 PP. Tentunya tidak termasuk bagasi dan makan. Setelah diskusi panjang lebar dan berusaha realistis bahwa kami harus bawa perlengkapan bocah segambreng, kemudian kemungkinan Niqu yang akan kelaparan selama penerbangan apalagi sampe 8 jam, maka kami pun menambah biaya untuk bagasi dan makan. Total sekitar Rp 12jt.
Belum lagi jarak kursi pesawat antara di depan dan belakang yang berdekatan. Kaki jadi gak bisa selonjoran enak padahal sendiri aja udah pegel, apalagi kalo mesti mangku bayi. Sedangkan kalo pilih seat akan dikenakan charge lagi. Mahaaaalll!
Ditambah lagi dengan pesawat yang mesti transit ke 1 kota dan ternyata waktu transitnya lebih dari 12 jam. Alhasil kami harus pesan hotel lagi (budget hotel tentunya).
Kalau dihitung-hitung, better dulu kita pilih maskapai nonbudget macem GA tapi penerbangan direct hanya 6 jam dan biaya sudah termasuk bagasi 30kg dan makan.
Hal inilah yang kami rasakan ketika ke Hongkong dengan menggunakan maskapai GA. Selain mendapat tempat duduk yang nyaman, kami gak perlu repot mikirin bagasi lagi dan makan karena sudah disediakan.
Sebagai contoh, tiket pesawat ke Seoul dengan maskapai budget airlines A, tiket PP saja hanya Rp 5.6jt. Apabila ditambah bagasi 20 kilo dan makan untuk perjalanan PP, total menjadi Rp 6.9jt. Itupun pake transit dulu di 1 kota.
Sedangkan maskapai nonbudget airline GA, tiket PP ke Seoul "hanya" Rp 7.5jt sudah bagasi 30 kilo dan makan.
Buat kami, budget airline hanya cocok untuk penerbangan dengan waktu tempuh maksimal 4 jam, seperti travelling ke negara-negara ASEAN. Lebih dari itu, sebaiknya nonbudget airline saja.

2. Penginapan
Say goodbye to hostel. Gak mungkin bawa anak kecil ke penginapan dengan dormitori untuk banyak orang sekaligus apalagi campur dengan para traveller lain. Yang namanya balita waktu tidurnya masih ajaib. Suka-suka dia kapan mau melek atau tidur. Yang jelas tidurnya harus tenang dan nyaman. Dan tentunya gak bisa campur dengan orang lain even kita pergi sama sahabat sendiri.
Kecuali kalo anaknya banyak sampe bisa nyewa dorm sendiri, hostel baru bisa jadi pilihan.
Tapi hostel kebanyakan kamar mandinya sharing. Ini yang paling bikin gak nyaman apalagi kalo bawa balita aktif yang proses mandinya pake drama.
Jadi sekarang kami kalo pilih penginapan prefer pake Airbnb atau mentok-mentoknya budget hotel kayak Hotel Tune In di KL atau Pop Hotel di Bali. Tapi tetep jagoan saya Airbnb karena kita bisa pilih sewa apartemen yang menyediakan dapur. Lumayan bisa menghemat biaya makan dan bagasi karena kita gak perlu bawa-bawa rice cooker dan teman-temannya.

3. Banyak tambahan perlengkapan
Bawa balita = bawa stroller, bawa gendongan, bawa makanan minuman sendiri, bawa mainan favorit anak, bawa popok, pakaian ganti yang banyak, tas khusus sendiri buat keperluan bayi, dan lain sebagainya. Inilah kenapa kita perlu bagasi buat bawa bawaan segambreng ini. Cabin baggage 7 kilo? MANA CUKUP!!

Sabtu, 23 September 2017

Pengalaman Pertama ke GATF - Harga Tiket dan Penentuan Tanggal

Melanjutkan postingan sebelumnya, saya masih kepengen bahas pengalaman saya ke GATF kemarin. Jujur saja perburuan tiket saya kali ini dibantu oleh salah seorang teman saya yang merupakan pegawai Garuda. Dia banyak membantu memberikan saya informasi soal penentuan tanggal dan membantu pada saat proses booking tiket sampai dengan tiket saya di-issued.

Berdasarkan informasinya, saya baru tau kalo ternyata tiket pesawat itu beda harganya tergantung dari jenis kelasnya yang dibagi sebagai berikut:

KATEGORI
KELAS
RATE
Economy
Y
Highest of all category
Economy
B

Economy
M

Economy
K

Economy
N

Economy Promo
Q

Economy Promo
T

Economy Promo
V

Super Saving Economy
S

Super Saving Economy
H

Super Saving Economy
L
Lowest of all category

Tabel di atas itu untuk tiket ekonomi standar di luar kategori First Class dan Business Class. Menilik dari tabel, yang paling atas adalah kelas tiket yang harganya paling tinggi, dan yang paling bawah adalah yang harganya paling rendah. Untuk kelas tiket dengan kategori Economy (Y, B, M, K, N) adalah harga tiket ekonomi normal tanpa promo/potongan/diskon apapun. Sedangkan kategori Economy Promo (Q, T, V) adalah harga tiket ekonomi normal yang didiskon/sedang promo seperti pada saat GATF ini. Kategori Super Saving Economy (S, H, L) adalah harga tiket spesial pada saat event promo, seperti pada jam-jam Happy Hours di GATF ini. Artinya harga tiket yang sudah promo kemudian didiskon kembali. Dan yang terendah dan paling banyak diincar dari itu semua tentunya tiket pesawat kelas L.

Lho kok dari masing-masing kategori itu masih ada pembagian kelas lagi sih?

Iya, karena semuanya ditentukan oleh tanggal keberangkatan. Untuk tiket-tiket keberangkatan bertepatan pada saat high season tentunya harganya lebih mahal daripada yang low season. Bisa ditebak, high season adalah musim liburan atau terdapat event khusus di tempat tujuan kita, atau sedang musim khusus yang dinantikan seperti pada saat musim semi. Makanya di sini kita mesti pintar-pintar cari tanggal.

Tips mencari tanggal supaya bisa dapet tiket termurah promo GATF adalah, cari tanggal yang jauh-jauh dari hari libur. Weekend, Jumat, tanggal merah, hari kejepit, dan H-1 sebelum hari libur adalah tanggal-tanggal yang harus dihindari. Selama GATF proses saya menentukan tanggal memakan waktu hampir 1 jam. Sebenernya saya sendiri sudah menyiapkan 6 opsi tanggal PP tapi sayangnya semuanya ada saja yang bentrok dengan hari libur, atau hari kejepit. Jadi saya tidak bisa mendapatkan tiket kelas L. Setelah berkali-kali ganti tanggal akhirnya dapet juga tanggal dengan harga tiket kelas L ke Korea PP sebesar Rp 4.6jt :)
*sujud syukur*

Btw, seorang temen kantor saya -sebut saja dia Rara, dan memang nama sebenarnya- di GATF Maret 2017 lalu berhasil dapet tiket PP ke Korea Rp 3.7jt aja! Sedangkan saya di GATF September ini dapetnya Rp 4.6jt. Infonya sih, memang GATF kali ini harganya lebih mahal dibandingin yang lalu. Saya gak tau juga kenapa.

Oiya, jika kita males atau gak sempet ke GATF, gak perlu dateng ke GATF buat dapetin tiket. Berdasarkan pengalaman sepupunya temen, cukup menghubungi travel agent yang menjadi peserta GATF 1-2 hari sebelum GATF dimulai. Kemudian lakukan prebooking tiket dengan memberikan nama sesuai paspor dan tanggal keberangkatan sekaligus pulang. Jangan lupa minta booking Happy Hours juga. Pada hari pertama GATF hubungi kembali si travel agent untuk proses selanjutnya. Cuma kalo kita pengen dapetin cashback sih gak bisa pake cara ini. Harus dateng langsung.

Selanjutnya mengenai ketentuan masa tinggal. Saya pernah blogwalking dan ada blogger yang menuliskan masa tinggal di negara Asia yang hanya 7 hari. Namun ada juga yang berpendapat bahwa hal tersebut tergantung dengan ketentuan visa yang kita dapatkan. Alhamdulillah saya mendapat pencerahan dari teman saya yang kerja di Garuda. Menurutnya salah 1 poin ketentuan pembelian tiket GATF adalah jarak antara tanggal keberangkatan dan tanggal pulang yang sudah ditentukan pihak maskapai. Tentunya hal inilah yang menentukan masa liburan kita di negara tujuan. Berikut info yang saya dapatkan:

RUTE INTERNASIONAL
LAMA HARI
Singapura
7
Kuala Lumpur
7
Bangkok
7
Mumbai
7
Hongkong
14
Guangzhou
14
Beijing
14
Shanghai
14
Chengdu
14
Tokyo
14
Osaka
14
Seoul
14
Sydney
14
Melbourne
14
Perth
14
Amsterdam
21
London
21

Dari tabel di atas, kira-kira contohnya kayak gini. Misal saya mau ke Melbourne. Antara tanggal keberangkatan yang saya pesan dengan tanggal kepulangan saya adalah 14 hari. Walaupun saya dapet visa 30 hari, tetap saja sesuai ketentuan pemesanan tiket pulang dan pergi pada saat GATF adalah 14 hari. Kalo diperhatikan, makin mahal harga tiket suatu rute, makin lama waktu penerbangan yang dibutuhkan, maka makin lama pula masa tinggal yang didapat. Yang jelas, hal di atas hanya berlaku untuk pembelian tiket rute internasional, dan tidak berlaku untuk rute domestik. Yaiyalah masa di negara sendiri dibatesin :)

Pengalaman Pertama Ke GATF - Kententuan Cashback

Kemarin, 22 September 2017, untuk pertama kalinya saya datang ke GATF di JCC. Tujuan saya jelas: beli tiket pesawat ke Korea semurah-murahnya!

Seperti halnya GATF sebelumnya yang bekerja sama dengan BNI, GATF kali ini menawarkan promo cashback sampai dengan Rp 1.5jt bagi pemegang Kartu Kredit BNI Premium dan Rp 1jt bagi pemegang Kartu Debit BNI Garuda. Berikut ketentuannya yang saya contek dari visitor's guide GATF 2017 Fase 2 (22-24 September 2017):

A. Cashback Kartu Kredit BNI Premium
1.     Kartu kredit yang bisa dapet cashback adalah:
-         Kartu Kredit Garuda BNI Platinum dan Signature
-         Kartu Kredit BNI Platinum
-         Kartu Kredit BNI Infinite
*gak berlaku buat Kartu Kredit iB Hasanah Card dan Corporate Card
2.     Ada 275 gelang cashback/hari/nama nasabah untuk 550 tiket PP;
3.  Kalau mau dapet gelang cashback kita harus antri dulu di BNI Ticket Box yang mana orang-orang udah pada mulai antri dari Subuh, padahal pintu JCC baru buka jam 9 pagi) dengan nunjukin KTP/SIM/Paspor asli yang masih berlaku (bukan fotocopy atau foto di HP);
4.    1 orang pemegang Kartu Kredit hanya berhak mendapatkan 1 gelang cashback dan hanya berlaku di hari yang sama;
5.    1 gelang cashback hanya untuk maksimal 2 tiket PP (harus PP, gak boleh one way dan bukan paket tur);
6.  Total transaksi di sales draft harus sesuai dengan total transaksi pada bukti pembelian/invoice/print out ticket;
7.    Pemegang Kartu Kredit harus bertransaksi di Travel Agent peserta GATF selama event berlangsung;
8.  Cashback dapat diklaim melalui Redemption Booth dengan membawa gelang cashback, Kartu Kredit, dan bukti pembelian. Gelang gak boleh dalam keadaan rusak atau dilepas;
9.   Nama pada Kartu Kredit harus sama dengan KTP/SIM/Paspor asli (tidak boleh diwakilkan);
10. Pemegang Kartu Kredit gak harus ikut dalam perjalanan. Jadi misalkan saya punya kartu kredit BNI dan beli tiket buat bapak ibu saya, terus saya claim cashback, itu boleh. Asal yang antri dan urus semua pembelian tiket saya sendiri;
11. Besarnya cashback adalah sebagai berikut:
Harga Tiket/Rute
Cashback
Kuota/Hari
≥ Rp 4.000.000,- (Internasional)
Rp 1.500.000,-
50
< Rp 4.000.000 (Internasional)
Rp 650.000,-
150
Domestik
Rp 500.000,-
300
Jakarta Singapura
Rp 950.000,-
50

12. Apabila kuota cashback tertinggi habis, maka pemegang gelang selanjutnya akan dapet cashback dengan tiering berikutnya (kecuali Jakarta-Singapura);
13. Cashback akan dikreditkan ke tagihan Kartu Kredit paling lambat 1.5 bulan setelah transaksi;
14. Promo ini gak berlaku pada saat blackout date. Kita bisa tanya travel agent kapan aja black out date;
15. Promo harga tiket serendah-rendahnya ada pada saat Happy Hours yaitu pada jam 10.00-13.00 dan 16.00-18.00;
16. Syarat dan ketentuan lain yang bisa ditanyakan pada travel agent.

B. Cashback Kartu Debit BNI Garuda
1.     Kartu debit yang bisa dapet cashback adalah kartu debit BNI Garuda saja;
2.     Ada 500 cashback/hari untuk pemegang Kartu Debit BNI Garuda;
3.  Pemegang Kartu Debit BNI Garuda gak perlu ngantri di BNI Ticket Box dan gak perlu pake gelang cashback;
4.   1 orang pemegang Kartu Debit BNI Garuda berhak mendapatkan cashback untuk nominal transaksi sesuai dengan tiering program (berlaku penggabungan struk);
5.     Struk yang berlaku adalah struk transaksi di atas jam 10.30 WIB;
6.  Pemegang Kartu Debit BNI Garuda harus bertransaksi di Travel Agent peserta GATF selama event berlangsung tidak terbatas pada pembelian tiket saja, namun juga include pembelian paket tur, koper, merchandise, dll;
7.     Cashback berlaku untuk kelipatan transaksi dengan maksimum 2x/kartu/hari;
8.  Cashback dapat diklaim setelah pembelian melalui Redemption Counter Kartu Debit dengan membawa struk transaksi, nota pembelian, e-ticket, dan bukti pembelian lainnya;
9. Pelayanan cashback di redemption counter Kartu Debit sesuai dengan antrian barisan yang lebih dulu melengkapi persyaratan yang diminta;
10. Nama pada Kartu Debit harus sama dengan KTP/SIM/Paspor asli (tidak boleh diwakilkan)
11. Pemegang Kartu Debit BNI Garuda gak harus ikut dalam perjalanan;
12. Besarnya cashback adalah sebagai berikut:
Nilai Transaksi
Cashback
Kuota/Hari
≥ Rp 5.000.000,-
Rp 1.000.000,-
150
≥ Rp 3.000.000,-
Rp 500.000,-
350

13. Apabila kuota cashback tertinggi habis, maka yang selanjutnya akan dapet cashback dengan tiering berikutnya;
14. Cashback akan dikreditkan ke rekening nasabah paling lambat 1.5 bulan setelah event GATF berakhir.

C. Cashback Kartu Kredit BNI Syariah iB Hasanah Card
Sesungguhnya ini gak ada di brosur visitor’s guide jadi saya nulis ini berdasarkan pengalaman pribadi sebagai pengguna iB Hasanah Card.
1.     Jenis kartu kredit yang bisa dapet cashback adalah iB Hasanah Card jenis apapun (Classic, Gold, Platinum);
2.     Tidak perlu menggunakan gelang cashback dan tidak perlu antri di booth manapun;
3.     Untuk claim cashback tidak perlu mengantri di booth/counter manapun;
4.  Data penerima cashback akan ditarik secara otomatis by system dan akan dikreditkan ke tagihan kartu kredit iB Hasanah Card max 1 bulan setelah transaksi;
5.     Pemegang Kartu Kredit iB Hasanah Card gak harus ikut dalam perjalanan;
6.  Besarnya cashback adalah sebesar 10% untuk setiap transaksi minimum Rp 1jt dengan max cashback sebesar Rp 300rb. Maksudnya kalo saya transaksi Rp 2jt maka saya dapet cashback 10% yaitu Rp 200rb Tapi kalo saya transaksi Rp 4jt maka saya dapet cashback hanya Rp 300rb bukan Rp 400rb. Karena sesuai ketentuan cashback maksimum hanya sampai dengan Rp 300rb.
7.     Cicilan 0% selama 6 bulan atau 12 bulan untuk transaksi di atas Rp 3jt.
Seluruh transaksi pembelian tiket pesawat hanya dilayani oleh travel agent bukan dengan pihak Garuda karena pihak Garuda sendiri sudah menyerahkan seluruhnya kepada travel agent yang menjadi peserta event. Booth Garuda hanya melayani pembuatan Garuda Miles dan redeem point Garuda Miles atau hal-hal lain di luar pembelian tiket.

Terus kalo gak punya kartu kredit BNI Premium atau kartu debit BNI Garuda atau iB Hasanah Card gimana?

Tetap bisa membeli tiket dengan harga promo pada saat Happy Hours secara cash namun tidak bisa mendapatkan cashback. Sebagai contoh, harga tiket pesawat termurah ke Korea PP pada saat Happy Hours adalah Rp 4.6jt. Kalo kita bisa dapetin cashback kartu kredit BNI Premium, harganya Rp 2.9jt PP!!

Btw, saya mau ulang lagi akh. Harga tiket pesawat termurah ke Korea PP pada saat Happy Hours adalah Rp 4.6jt. Kata “termurah” di situ artinya itu adalah belom tentu kita bisa dapet harga Rp 4.6jt even pada saat Happy Hours. Untuk selengkapnya saya akan bahas ini di postingan berikutnya.