Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Minggu, 29 Januari 2017

Not A Perfect (Traveller) Mom

Saya bukanlah supermom yang memiliki kemampuan melakukan banyak hal dan terlalu protektif terhadap anak saya. Jujur saja saya tidak bisa masak, saya tidak seru jika mengajak bermain, saya juga bukanlah seorang wanita yang rapih. Sometimes I was too confused what I had to do for my baby and then do nothing. Dengan segala keterbatasan kemampuan saya sebagai seorang ibu, saya berusaha segala cara what's good for my baby tapi tidak membuat saya stres dan repot.

Ketika pada akhirnya saya dan si Babeh membuat rencana perjalanan ke Australia, kami tau perjalanan kami kali ini tidak akan semudah ketika kami jalan-jalan masih berdua saja. Misalkan, dalam hal makanan. Kalau dulu kami masih bisa menahan lapar or do the brunch, but not this time. Bayi tidak bisa menahan lapar. Ketika waktunya makan maka dia akan mengeluarkan sinyal berupa rewel berkepanjangan, dan saya tidak mau itu terjadi dan menghancurkan perjalanan kami. Sebagian blog yang saya baca menyarankan membawa perlengkapan masak seperti rice cooker atau slow cooker -yang tentu saja disertai dengan membawa bahan-bahan makanan tentunya. Saya sempat berpikir untuk membawanya, tapi setelah kami coba masukkan ke dalam koper, ternyata tidak muat dan malah akan menambah bawaan dan bagasi kami. Akhirnya setelah berdiskusi dari segi efektivitas, saya memutuskan untuk menyisihkan budget lebih besar untuk makanan dengan: makan di restoran! Mudah, gak perlu ribet bawa barang-barang, gak perlu repot masak, gak perlu cuci-cuci juga, dan efektif dari segi waktu. Memang biaya makanan di Australia apalagi di kota Sydney begitu tinggi. Tapi porsinya pun sangat besar. Biasanya saya hanya membeli 1 porsi untuk makan berdua dengan Niqu. Malah kadang-kadang bertiga dengan si Babeh kalau dirasa porsinya terlalu banyak.

Selain soal makanan, juga soal destinasi wisata yang akan dikunjungi. Babeh sudah membuat itinerary perjalanan kami se-perfect mungkin. Dalam 1 hari ada 3-4 destinasi yang akan kami kunjungi. Saya ingatkan kepada Babeh bahwa kita membawa bayi dalam perjalanan jadi tidak usah terlalu idealis pergi ke 3-4 destinasi. "Jangan ngoyo!" kalau kata saya. 1-2 destinasi dalam 1 hari saja cukup. Memang akan menjadi kurang puas rasanya tapi saya tau betul bayi tidak bisa dipaksa jalan-jalan terlalu lama walaupun dia digendong atau naik stroller. Dan apa yang saya prediksikan menjadi kenyataan. Itinerary yang Babeh buat hancur berantakan. Ketika kami transit di Malaysia selama 12 jam pada saat berangkat, rencananya kami akan mampir untuk berfoto di depan Menara Petronas dan Art Museum di depan tulisan I Love KL. Realisasinya kami hanya berfoto sebentar di depan Menara Petronas.

Ketika tiba di Sydney pun begitu. Hari pertama harusnya ada 1-2 destinasi yang kami kunjungi. Realisasinya, Niqu tertidur dari jam 1 siang sampai jam 5 sore. Hari itu kami hanya mengunjungi kost sahabat saya si Dhoni di malam hari. Hari kedua dan seterusnya pun begitu. Kami mengalah dengan jam tidur-bangunnya Niqu. Kami baru berangkat setelah Niqu bangun dan lebih banyak beristirahat di tengah-tengah perjalanan. Salah dua destinasi yang kami lewatkan padahal ada di itinerary kami adalah The Rocks dan Victoria Building. Kami juga batal jalan-jalan di jalan setapak tepi laut yang menghubungkan Bondi Beach dan Coogie Walk. Kami baru sampai Bondi Beach menjelang Maghrib sehingga kami hanya bisa menikmati sunset di tepi pantai.

The worst dari perjalanan kami adalah ketika menaiki pesawat pulang dari Australia dan akan transit di Malaysia yang memakan waktu perjalanan sekitar 8 jam. Pada saat keberangkatan kami mendapat tiket di malam hari sehingga tidak terlalu menjadi masalah untuk kami karena Niqu tertidur pulas selama di pesawat, walaupun beberapa kali dia terbangun dan rewel dan itu adalah salah satu tidur malam paling tidak nyenyak yang pernah saya alami setelah melahirkan. Sayangnya pada saat pulang, kami mendapat tiket pesawat di siang hari. Pada saat take off tidak menjadi masalah karena Niqu saya nenenin. Our nightmare began in 3-4 hours before landing. Niqu rewel serewel-rewelnya. Nangis gak karuan berontak sana-sini. Orang India yang duduk di samping kami sampai harus pindah duduk ke seat belakang yang kosong. Semua mata tertuju ke kami. Ada yang merasa kasihan, ada yang merasa terganggu tentunya. Serombongan bapak-bapak dan ibu-ibu Malaysia mencoba membantu menenangkan Niqu tapi tidak berhasil. Si Babeh inisiatif menggendong sambil jalan-jalan di pesawat pun hanya bertahan beberapa menit. Anak-anak blasteran Jepang-Bule berusia 5-7 tahun yang duduk di depan kami pun juga turut menggoda Niqu. Awalnya Niqu tertarik tapi lama-lama dia bosan dan mulai rewel lagi. Niqu selalu menunjuk-nunjuk ke arah luar jendela. Saya tau sekali dia bosan di dalam pesawat dan pastinya lelah ingin tiduran di kasur. Saya coba nenenin yang ada malah payudara saya digigit keras-keras dan ditarik sampai luka. Saya benar-benar stres waktu itu. Lama sekali Niqu menangis dan tidak mau tidur.

Menjelang 1 jam sebelum landing di KLCC, Niqu akhirnya tertidur. Mungkin pada akhirnya dia menyerah pada energinya yang sudah terkuras habis. Saya dan si Babeh pun akhirnya bisa bernafas lega. Sampai di KLCC kami menyegerakan diri ke Tune In Hotel untuk beristirahat. Seharusnya sesuai itinerary kami bisa berjalan-jalan ke salah 1 destinasi terdekat di Kuala Lumpur. Tapi saya dan si Babeh begitu lelah dan saya lebih suka membiarkan Niqu tidur untuk mengistirahatkan punggungnya lebih lama di kasur.

Benar saja! Sampai di hotel Niqu terbangun dan dia guling-gulingan di atas kasurnya sambil tertawa-tawa.

Sabtu, 28 Januari 2017

Apply Visa Australia (gampang-gampang ribeud)

Setelah blogwalking sana-sini dan mempelajari pengalaman setiap orang yang pernah apply visa Australia, kami memberanikan diri untuk apply visa Australia secara mandiri tanpa melalui agensi. Kalau ditelusuri sebenarnya persyaratan apply visa Australia ini cukup mudah tapi mungkin agak ribet jika dibandingkan dengan apply visa negara lainnya, selain harganya lebih mahal tentunya.

Visa Austalia tidak diurus oleh Kedubes Australia, melainkan melalui pihak ketiga yaitu VFS Global yang berada di Kuningan City lantai 2. Sebelumnya kami persiapkan dahulu dokumen kelengkapan berupa:

1. Download form aplikasi 1419 khusus untuk turis biasa dari situs berikut atau bisa langsung ke link ini. Setelah itu diisi dengan jujur dan penuh khidmat dan hati-hati. Pengisian form ini juga berlaku untuk bayi sekalipun.
2. Paspor lama yang masih berlaku minimal 12 bulan.
3. Pasfoto 4x6 sebanyak 2 lembar dengan backgroud warna putih. Untuk yang berjilbab tidak perlu memperlihatkan kuping, tapi pakailah jilbab dengan model yang tidak menutupi rahang. So, jilbab model antem (anti tembem) gak berlaku.
4. Dokumen indetitas diri seperti fotocopy KTP, SIM, KK (jangan lupa bawa yang aslinya juga). 
5. Surat keterangan kerja dari perusahaan/instansi tempat kita bekerja dengan keterangan:
a. bahwa kita adalah benar pegawai tetap (sebaiknya cantumkan pula jabatan kita);
b. lamanya kita berkunjung ke Australia (sebaiknya dicantumkan dari tanggal berapa sampai tanggal berapa);
c. jaminan bahwa kita akan kembali ke Indonesia untuk kembali bekerja (ini yang paling penting, karena surat keterangan ini dimaksudkan bahwa kita tidak bermaksud menjadi pekerja ilegal di Australia).
Apabila kita seorang wirausaha, maka perlu melampirkan SIUP perusahaan kita.
6. Slip gaji 3 bulan terakhir sebagai bukti kita memiliki penghasilan.
7. Garansi bank dan rekening koran 3 bulan terakhir. Pastikan sebelum cetak rekening koran, saldo rekening cukup untuk biaya hidup selama di Australia. Pastikan juga saldo rekening kita tidak tiba-tiba menggendut karena akan menjadi alasan penolakan visa. Usahakan rekening koran yang digunakan adalah rekening gaji/penghasilan kita.
8. Fotocopy bukti potong pajak 1 tahun terakhir untuk membuktikan bahwa kita tidak lari keluar negeri karena menunggak pajak.
9. Untuk anak-anak di bawah usia 18 tahun seperti Niqu, menggunakan form 1229 yang dapat dilihat di sini.
10. Mencantumkan tiket pesawat dan hotel yang sudah di-booking beserta itinerary perjalanan kita selama di Australia. Untuk tiket pesawat kami memang sudah beli sejak 1 tahun sebelumnya, sedangkan untuk hotel kami sengaja mencari yang free cancellation. Untuk itinerary kami hanya membuat kasarannya saja hari pertama ke mana, hari kedua ke mana, dst.
11. Surat sponsor apabila perjalanan/akomodasi kita ditanggung oleh kerabat di Australia. Pada saat mengisi form 1419, saya mengatakan bahwa salah 1 tujuan saya ke Australia adalah mengunjungi sahabat saya. Namun saya tidak mencantumkan surat sponsor karena saya pikir biaya perjalanan dan akomodasi kami selama di sana kami tanggung sendiri. Kami pun mencantumkan bukti booking hotel selama kami tinggal di sana. Si Babeh lebih cari aman dengan tidak mengatakan akan mengunjungi teman, hanya menuliskan berkunjung untuk refreshing dan liburan.
12. Membayar biaya visa sebesar AUD 135/orang. Atau jika dikurs ke rupiah sekitar Rp 1.5jt-Rp 1.6jt. Jadi untuk biaya visa bertiga kami habis sekitar Rp 5jt sudah termasuk dengan biaya admin. Biaya ini tidak dapat di-refund apabila visa kita ditolak, jadi diterima atau ditolak visa kita ya biayanya segitu. Beruntung buat yang diterima, apes buat yang ditolak.

Sebelum kami apply visa Australia, saya dan si Babeh mempelajari dulu pengalaman orang-orang yang permohonan visa Australia-nya ditolak. Berikut kesimpulan yang kami tarik sendiri yang biasanya menjadi alasan penolakan visa Australia seseorang:

1. Surat keterangan kerja kurang informatif. Biasanya dikarenakan surat keterangan kerja yang dibuat tidak mencantumkan kalimat jaminan yang menyatakan bahwa si pegawai akan kembali bekerja pada tanggal sekian. Atau tidak dicantumkan waktu kepergian dan kepulangan si pegawai.
2. Adanya aliran dana yang cukup besar tiba-tiba masuk ke rekening kita sehingga saldo rekening menggendut. Hal ini bisa menjadi pertanyaan pihak Australia. Bahkan seseorang yang tiba-tiba mendapat uang warisan di rekeningnya pun, akhirnya ditolak permohonan visanya. Apabila kita tau akan mendapat aliran dana yang cukup besar, usahakan dana tersebut masuk pada periode sebelum periode kita cetak rekening koran agar tidak dicurigai.
3. Tidak mencantumkan surat sponsor. Misalkan kita mau numpang di rumah kerabat kita di Australia. Cantumkan invitation letter dari kerabat kita tersebut yang mengatakan bahwa kita akan ditanggung akomodasinya selama di sana. Si kerabat juga harus mencantumkan statusnya di Australia sebagai apa, berapa lama, dan apakah rumahnya punya sendiri atau sewa. Jika rumah sewa, dicantumkan pula perjanjian sewanya, dsb. Ribeud! Saya lebih suka booking hotel yang free cancellation.
4. Tidak punya pekerjaan dan penghasilan tetap.
5. Untuk anak-anak/mahasiswa yang belum bekerja, tidak mencantumkan surat izin orang tua dan tidak ada surat keterangan siapa yang akan menanggung biaya perjalanan.

Proses apply visa sendiri dikatakan 14 hari kerja. Notifikasi diterima/ditolaknya visa kita adalah melalui email. Biasanya jika ditolak akan diinformasikan alasan penolakannya. Pada saat apply, Babeh dan Niqu mencantumkan email si Babeh untuk notifikasi status visa, sedangkan saya mencantumkan email saya sendiri. Pada kenyataannya, notifikasi status visa saya tetap dijadikan 1 bareng Babeh dan Niqu. Jadi jika yang apply 1 keluarga, cukup 1 email saja untuk bareng-bareng. Dan pemberitahuan bahwa visa kami diterima hanya 5 hari kerja :))))

Jumat, 27 Januari 2017

Apply E-Passport

Pada Desember 2015 saya dan Niqu dengan ditemani si Babeh apply e-passport di Kantor Imigrasi Jakarta Selatan. Waktu itu Niqu baru berusia 6.5 bulan. Kami apply e-passport selain buat gegayaan juga untuk memudahkan kami ketika jalan-jalan di luar negeri dan supaya ke Jepang gak perlu apply visa lagi. Forza e-passport!

KTP saya Depok, dan pembuatan paspor sebelumnya juga di Depok, tapi saya apply di Kantor Imigrasi Jaksel karena untuk apply e-passport baru bisa dibuat di beberapa kantor imigrasi tertentu. Si Babeh gak ikutan apply karena tahun 2014 baru perpanjang paspor biasa. Karena sayang, jadi apply e-passport-nya nanti setelah paspor biasanya habis masa berlaku.

Kami tiba di Kantor Imigrasi Jaksel sekitar jam 06.00 pagi. Ketika datang, saya melihat sudah banyak orang yang duduk di suatu area. Mereka diberikan nomor antrian sesuai dengan waktu kedatangan. Karena kami membawa bayi, kami dimasukkan ke ruangan khusus dan diberi nomor antrian awal. Yeay! Memang untuk para lansia dan bayi (serta si pengantar tentunya) lebih didahulukan dan antrian duduknya di ruangan terpisah. Kami menunggu di ruangan nonsmoking room ber-AC. Sedangkan orang-orang biasa duduk mengantri di luar yang tentunya sangat bisa untuk smoking-smoking. Saya dan Niqu mendapat antrian nomor 2 dan 3 setelah KTP dan KK kami diperiksa oleh petugas. Kami duduk mengantri untuk menunggu jam operasional kantor yang baru dimulai sekitar jam 07.00 pagi. Setelah itu, kami semua dipanggil dan dibawa ke lantai 2 dan disuruh antri berdiri berdasarkan nomor antrian yang dibagikan di awal. Kami diberikan lagi nomor antrian baru oleh petugas di lantai 2 dan diberikan form apply passport. Karena kami ingin apply e-passport dari awal kami bilang ke petugas mau bikin e-passport. Form kami dicap e-passport karena kalau tidak dicap akan dianggap apply paspor biasa. Setelah mengisi dokumen dengan lengkap kami menunggu panggilan. Ada banyak counter untuk melayani orang-orang yang akan apply paspor. Antrian paspor biasa dan e-passport berbeda dengan antrian paspor online. Khusus e-passport tidak bisa apply online, tidak seperti paspor biasa. Untuk layanan paspor online bisa mengunjungi situs imigrasinya langsung.

Kantor Imigrasi Jaksel bagi saya sangat nyaman. Ada area untuk bermain balita dan ada ruangan menyusui juga. Bagi yang lupa fotokopi ada koperasi kecil di sudut yang melayani fotokopi dan pembelian form-form yang diperlukan untuk keperluan apply paspor, seperti: form tambah nama (untuk yang mau tambah nama jadi 3 kata), form izin orang tua (jika yang apply masih anak-anak), dll.

Ketika nomor antrian saya dan Niqu dipanggil, kami menyadari bahwa saya dan Niqu dilayani oleh counter yang berbeda. Akhirnya Niqu dipegang oleh si Babeh dan saya sendirian. Karena Niqu sudah bisa duduk, jadi dia didudukkan di kursi high chair khusus bayi.

Tips khusus untuk para orang tua yang ingin membuat paspor untuk bayi/balita, agar si bayi mudah untuk difoto bawalah ipad/tab dan setel video kartun kesukaan anak anda. Peganglah ipad/tab anda di samping atau di atas kamera yang akan mengambil foto paspor anak anda, sehingga wajah anak anda fokus ke hadapan kamera. Jika anda merasa kesulitan memegang ipad/tab anda, bisa meminta kepada petugas. Sejauh ini petugas-petugasnya helpful kok.

Setelah semuanya selesai, kami diberikan secarik kertas berisikan keterangan dan diminta melakukan pembayaran ke outlet BNI yang berada di seberang kantor imigrasi. Pembayaran e-passport adalah sekitar Rp 650.000,-/orang (persisnya saya lupa karena kuitansinya hilang). Kalau tidak salah Rp 600.000,- untuk biaya pembuatan e-passport sedangkan Rp 15.000 atau Rp 50.000,- untuk biaya admin. Jadi kita bulatkan saja jadi Rp 650.000,- :P

Proses pembuatan e-passport adalah 5 hari kerja, lebih lama dari pembuatan paspor biasa yang hanya 2-3 hari kerja. Untuk pengambilannya, siapkan tanda pengenal seperti KTP/SIM. Saya mengambil e-passport saya sekaligus dengan Niqu. Karena Niqu masih anak-anak, jadi tidak perlu membuat surat kuasa. Saya hanya menunjukkan Kartu Keluarga asli dan KTP asli saya. Proses pengambilan paspor sangat cepat dan mudah. Ketika saya datang, saya mendapat nomor antrian 100-an, padahal antrian yang sudah dilayani masih 70-an. Namun ternyata hanya 15 menit saya menunggu, nomor saya sudah dipanggil :))))

P.S: e-passport ini tidak berlaku di Malaysia karena kami tetap harus mengantri bersama dengan pemegang paspor biasa. Hanya saja untuk ASEAN passport ada line khusus sehingga antrian lebih cepat. E-passport Indonesia dan beberapa negara Asia lainnya juga tidak berlaku di Australia saat kami berkunjung tahun 2016, kecuali e-passport Malaysia.