Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Sabtu, 24 September 2011

Belajar Mensyukuri


Jujur saya saat ini ada di titik jenuh kerja. Pengen rasanya jadi housewife bersuamikan orang kaya aja supaya ga perlu kerja kantoran. Sampai akhirnya di suatu hari saya ngerasa ga enak badan sedikit karena masuk angin sedikit, jam7 pagi langsung sms bos dan ijin ga masuk kerja. Ada sedikit rasa bersalah karena sebenernya saya masih cukup kuat buat ke kantor, tapi di sisi lain girang bukan kepalang karena bisa ngelupain urusan kantor sejenak dan leyeh-leyeh di rumah. Tapi di saat bolos inilah Tuhan ngasih hidayah buat saya.

Emang ya yang namanya hidayah itu dateng ga disangka-sangka dan bisa dalam berbagai cara. Tiba-tiba aja gitu pas lagi fesbukan nemu notes yang dipost seorang teman tentang pekerjaan. Bahwa memang wajar jika ada suatu waktu kita ngerasa bosen dengan kerjaan kita dan rasanya pengen stop aja. Bahwa di saat yang sama, di tempat lain ada ribuan orang yang rela bertukar tempat dengan kita demi mendapat sebuah pekerjaan. Di mana di suatu sisi saya ga perlu khawatir soal gaji, bonus, serta fasilitas tunjangan dan asuransi, di sisi lain banyak pengangguran di mana-mana dan banyak pula orang yang berpenghasilan di bawah UMR yang ga nutup pengeluaran sehari-hari.

Selesai fesbukan, Tuhan juga seperti menegaskan lagi hidayah-Nya. ­­Si  mbok lagi nonton sinetron yang kebetulan adegannya ada cewek yang  berada pada kondisi sulit rela kerja apapun demi kebutuhan hidupnya. Bahkan di sinetron itu digambarin si cewek itu akhirnya dapet kerjaan “kecil” yaitu orang yang tugasnya nganterin pesanan di sebuah toko kue. Bukan kerja kantoran yang duduk di depan layar komputer, atau yang berhubungan dengan klien, dan bukan juga menjadi seorang asisten Corporate Communication di sebuah bank yang sudah cukup memiliki nama.

Seharusnya saya mensyukuri itu semua. Seharusnya saya bersyukur atas apa yang sudah diberikan Tuhan ke saya. Seharusnya saya ingat bagaimana saya pernah mengalami jobless selama beberapa bulan. Seharusnya saya ingat bagaimana saya pun awalnya kesulitan mendapat pekerjaan karena IPK yang ga mencapai angka 3. Seharusnya saya ingat bahwa sebelumnya saya pun pernah bekerja dengan gaji yang kurang sesuai dan lingkungan kerja yang tidak kondusif dibanding sekarang, dan bagaimana saya sangat ingin resign dan ingin mendapat pekerjaan yang lebih baik di mana background pendidikan saya lebih dihargai. Seharusnya saya ingat bagaimana saya berdoa memohon-mohon pada Tuhan “I’ll do anything to get a job, I’ll work as well as I can do, I really really want have a salary to support my life”. Seharusnya saya ingat betapa sulit dan panjangnya tahapan tes untuk masuk ke perusahaan ini. Seharusnya saya ingat apa tujuan utama saya bekerja.

Ah, jadi malu sendiri. Betapa manusia satu ini bukannya berterima kasih sama Tuhan udah dikabulin segala doa-doanya, malah sekarang ngeluh sana-sini, dan bisa-bisanya “bolos” kerja untuk sesuatu yang seharusnya engga.

Thanks God for reminding me from this doubtness. Thanks to give me this strength when I’m in the top of boreness. Thanks to give me back to my spirit. Really really want to thank You for reminding me to appreciate my wonderful life. Thanks God for everything. Really really ove u!

Buat temen-temen yang lagi jenuh, bosen, dan di puncak kemalasan kerja, selalu liat ke bawah dan inget tujuan awal kita kerja apa. Semoga dengan begitu bisa nambahin semangat kita lagi buat kerja. Huhu, jadi kangen si KomMot (Komputer Lemot) di kantor.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.